Archive for May, 2007

Menuju 2o

Monday, May 21st, 2007

Fff_jg

“Kamu tidak akan pernah merasa menjadi SIAP. Karena
keberhasilan yang akan kita tuju itu belum pernah kita alami (Mario Teguh-pakar
motivasi financial)”.

Menuju 20 adalah suatu
sebutan untuk proyek pribadi gw. Yap, betul sekali, ini adalah proyek (sengaja
pakai term proyek, biar lebih keren dan serius,,hehehe) yang sengaja gw rancang
untuk menyambut umur gw yang 24 mei nanti akan genap dua puluh tahun. Mungkin
ada yang heran mengapa gw terlalu menjadikan ini sebagai euphoria atau sekedar show off belaka.
Terserah lo-lo pada mau ngomong apa. Tapi hal ini  tetap harus dijadikan
suatu media positif untuk evaluasi, retrospeksi, dan juga kontemplasi (gw masih
saja suka kata dan kegiatan ini). Alasan lainnya adalah menurut gw, umur 20
adalah awal seorang manusia menjadi dewasa muda dan dimana dia akan memasuki
kompleks dan peliknya hidup yang familiar dinamakan “kepala dua”.

Lo semua pasti tahu (atau
tidak mau tahu?,,becanda deng!), umur dua puluh adalah pintu gerbang untuk
peristiwa-peristiwa monumental yang akan tertores dalam sejarah hidup anak
manusia. Seperti lulus kuliah, memasuki dunia kerja yang terkenal kompetitif,
pernikahan dan lain-lain. Bukan berarti usia lain tidak. Gw pernah mendengar AA
Gym dalam satu ceramahnya, dia mengatakan bahwa usia muda (disini gw
mengasumsikannya dengan umur dua puluh tahunan) adalah usia dimana seseorang
sebaiknya melakukan segala hal2 positif dan tidak menyia-nyiakan kekuatan
“muda”nya dengan kegiatan-kegiatan yang “sampah”(baca: tidak berguna). Orang
muda yang bijak menggunakan masa mudanya bisa dijadikan sebagai refleksi untuk
fase-fase umur lainnya.

Sejak pertama kali ide ini
muncul, gw sudah bertekad agar saat itu (sejak ide itu muncul), gw ingin
menjadi lebih baik dari hari kemaren, kemarennya lagi, dan hari-hari
sebelumnya. Gw selalu ingin menjadi lebih sempurna dari hari-hari sebelumnya.
Hal yang menjadi variable dan tolok ukurnya adalah :

  1. pola pikir
  2. kemampuan menghadapi serta problem solving
  3. bersikap terhadap orang lain yang notabene
              berbeda-beda tipikal kepribadian dengan kita
  4. regulasi emosi dan mood barangkali??
  5. apa ya??

“Orang baik yang
tidak diperlakukan secara baik, maka selanjutnya pasti akan dicari dan
diperlakukan lebih baik dengan orang yang lebih menghargai kebaikannya (Mario
Teguh)”.

 

Hari demi hari gw selalu
mengevaluasi setiap kegiatan yg gw kerjakan, mengevaluasi sikap gw ke hampir
setiap orang yg gw berinteraksi dengan mereka, terkadang membosankan, terkadang
membuat gw selalu menyalahkan diri gw kepada orang-orang itu (baca: semua orang
yg berinteraksi dengan gw dan berjanji dalam hati setiap akan tidur untuk tidak
mengulangi keesokan harinya. Namun, ketika gw sudah berhati2 untuk tidak
mengulangi ketololan hari kemaren, gw berhasil di hari berikutnya. Namun, masih
saja gw melakukan ketololan baru di hari itu. Hal ini selalu terulang setiap
harinya.

Dulu gw berpikir, kita
tidak akan mungkin memaksa orang lain untuk involve atau mengikuti rules yg
kita buat. Betapa egosentrisnya gw?? Walau ada beberapa yg bisa menerima apa
idealisme gw. Namun mereka juga punya hak dan kebebasan untuk menentang
iealisme gw. Apa eksesnya? Kebanyakan gw yg involve kepada rules yg mereka
buat. Sampai kapan gw harus seperti itu?

“Menolong bukanlah
sebuah pekerjaan dimana terdapat imbalan jika kita memberikan pertolongan. Saya
yakin, jika menolong orang lain, maka Tuhan PASTI akan menolong saya juga
dengan tangan yang berbeda. Dan itu selalu berjalan & berputar
membentuk suatu siklus (Mario Teguh)”.

Menuju 2o dengan status
joMBLo? Hahaha,,awalnya gw berpikir itu memalukan. Ya, cinta dan sayang tidak
bisa dipaksakan. Ketika kita harus rela bahwa orang yang kita sayangi itu lebih
memilih laki-laki lain, ketika kita sudah siap untuk mengeksekusi dengan
katakan cinta lalu berubah seratus delapan puluh derajat untuk tidak jadi dan
berpaling kepada perempuan lain, ketika kita begitu disayangi oleh seseorang
lalu kita apatis dan tidak berbalik membalas sayang itu dengan alasan tidak
sayang atau sudah memilih perempuan lain, ketika rasa suka terhalang oleh salib
di leher, ketika rasa kecewa terhadap seseorang dijadikan alasan untuk
membalaskannya kepada perempuan yang tidak bersalah, ketika kita mengucapkan kata
“ketika” untuk melanjutkan kalimat pada paragraf ini,,,. Dua perasaan itu
haruslah menyatu dan tidak bersifat sepihak. Harus saling menyayangi, harus
saling menrima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan, dan menjaga
kepercayaan satu lainnya.

Lalu gw berpikir lagi, toh
gw laki-laki. Gw (secara tidak tertulis) tidak dilarang untuk menikah pada umur
kapan saja. Ya, hal ini kontras dengan perempuan. Bukan gw bermaksud
menonjolkan hegemoni ini. Tapi, memang itu kenyataannya. Hampir setiap perempuan
yg gw temui selalu menceritakan pola ekspektansinya untuk masalah menikah.
Kuliah 4 tahun, beberapa yg langsung melanjutkan ke S2 selama 2 tahun, lalu
kerja dua tahun juga. Dan merit,, benar-benar pola yg membosankan.

Suatu saat nanti, gw pasti
mendapatkan apa yg gw mau (mencoba meyugesti diri sendiri,,hahaha)

“Setiap manusia di
dunia ini butuh perhatian (Bayu Sugara-sahabat gw)”

Menuju 2o, suatu dedikasi
untuk mama dan papa. Dua orang yg sangat gw sayangi. Sumpah! Gw ga bisa
bayangkan jika salah satu dari mereka pergi ke dunia yang lain. Ya, gw juga
sepenuhnya sadar kalau mereka tidak abadi di dunia ini. Gw begitu bersyukur
sampai saat ini masih bisa bertemu dan mendengar suara mereka walau lewat
handphone. Tau ga, setelah tanggal 1 November 2005 itu (maaf ya Syed,,, (bukan
nama sebenarnya), gw ga maksud nyinggung hal itu lagi), gw merasa down dan
beberapa bulan untuk merefresh pikiran gw lagi. Di saat itu gw selalu mencari
apa hikmah dibalik semua itu. Karena gw sangat yakin, hikmah itu tidak datang
dengan sendirinya namun harus ada usaha mencarinya. Dan gw berhasil
menemukannya. Gw merasa sadar, selam ini, rasa sayang gw terpusat hanya untuk
seorang perempuan. Lalu perempuan itu pergi. Dan gw pun apatis terhadap mama dan
papa. Padahal rasa sayang mereka ke gw tidak pernah hilang dan terbatas. Di
titik itu, gw merasa mulai saat ini gw harus lebih sayang lagi kepada mereka.
Tidak ada alasan tidak. Gw merasa itu adalah epifani yg membuat gw sadar bahwa
kehadiran mama dan papa tidak akan selamanya ada di hidup gw. Pasti ada saat
dimana mereka akan meninggalkan gw untuk mengarungi hidup yang betul-betul liar
ini.

Sejak itu, rasa sayang gw
kepada mereka bertambah besar. Dari cara gw ngomong lebih sopan dari biasanya.
Gw sebisa mungkin tidak menolak apa yang diminta tolong atau yang
diinginkannya. Alasannya, gw takut gw tidak bisa membalas semua kebaikan dan
utang budi mereka ketika mereka “pergi” nanti. Gw cuma ingin membahagiakan
mereka selama mereka masih hidup dan selama gw sanggup.

“Sebuah keramik yang
indah pastilah melalui tahap-tahap yang kompleks sekali, mulai dari tanah liat
yang dipukul-pukul, diremas-remas hingga dibentuk (shaping), setelah itu
dipanaskan di dalam oven yang sangat panas. Terakhir, diberi cat warna (Mario
Teguh)”.

Hampir setiap hari gw
mencoba untuk lebih sempurna dari hari-hari yang lain. Gw tahu gw adalah
seseorang manusia yang mempunyai keterbatasan. Tetapi mempunyai keinginan yang
melebihi kemampuan gw, tidak dilarang juga kan? Pernah di satu titik, gw merasa
tidak memliki apa-apa dibanding orang lain di sekitar gw. Ada impresi bahwa
mereka sangat mengagumkan, sangat bersinar, seolah-olah Tuhan hanya melebihkan
nikmat dan karunia-Nya hanya kepada mereka saja. Superfisial (baca: picik)
banget gw?

Sebelum “menuju 2o”, gw
disupport ama sicnificant other
(orang yang sangat berpengaruh dalam hidup gw) gw. Akhirnya gw sadar, gw SANGAT
TIDAK PERLU untuk merasa inferior. Gw diberi keyakinan bahwa banyak sekali
kelebihan yang gw miliki tidak ada bersama orang lain. Sekarang gw cuma
ditugasi untuk menyadari hal itu, dan segera memaksimalkan apa-apa yang gw
punya. Ternyata paradigma gw pun berubah. Gw lebih pede dan tidak perlu merasa
jiper atau inferior lagi.

Gw merasa sangat bahagia
menyambut “perhelatan” ini. Walaupun hanya dalam konstelasi dan asketik pikiran
gw. Gw puas dengan apa-apa yang gw miliki saat ini. Gw merasa sempurna. Sangat
sempurna bahkan (bukan takabur juga). Ini hanya refleksi euphoria gw semata.

“Ketika gw bersyukur
dengan semua yang gw miliki, gw merasa menjadi orang terkaya di bumi ini (Fajar
Erikha 2006)”

Segalanya pasti ada proses.
Terkadang kita pun harus mengkritisi sebuah kata “instant”. Mengapa? Sebuah
pembuatan mi instant pun membutuhkan proses juga. Jadi instant pun juga proses.
Hanya saja durasi waktunya lebih singkat. Hal ini yang gw ambil sebagai
landasan dalam perubahan gw menuju lebih baik pun tidak bisa langsung begitu
saja. Setiap hari gw pasti menemui hal-hal baru, baik berupa hal-hal yang telah
terjadi di masa lampau, atau hal-hal yang sangat unpredictable. Gw belajar dari
kesalahan-kesalahan yang gw alami. Semakin banyak gw belajar, maka (idealnya)
gw akan semakin cekatan dan bijak dalam problem solving dan decision making
(harapan gw).

Seamat datang umur 2o, gw
akan berusaha menjadi diri gw sendiri dan menjadi terbaik bagi siapa saja dan
apa saja. Gw akan menjadi mikrokosmos yang “patuh” terhadap equilibrium
makrokosmos. Karena alam punya cara sendiri untuk itu (baca : hukum alam dan
balansnya Yin dan Yang)

“Baik saja belum
cukup bila lebih baik masih memungkinkan (Mario Teguh)”.

Terima kasih bwat Penguasa
Abadi, mama dan papa. Keluarga gw. Para significant other gw (sahabat, mantan2
gw, teman-teman band dan filateli gw, senior2, guru2 dll) juga orang-orang yg
pernah sangat berjasa bagi kehidupan gw namun ga sempat gw ucapin,

*(Mario Teguh adalah
seorang trainer financial yang acaranya di radio Ramako FM Jakarta yang bekerja
sama dengan Classy FM Padang. Acara beliau  (hampir) selalu gw dengar
ketika gw vakum di awal 2006 kemaren. Thx bwat quotationnya. Beliau sangat
bijak dan pintar sekali)