Wanita Dijajah Pria Sejak Dulu (Sampai Sekarang)

 

Anda yang perempuan, saya rasa pasti setuju dengan statement
saya di atas. Wanita dijajah pria yang saya angkat dalam karangan kali ini
adalah mengenai kekerasan terhadap perempuan (sebenarnya saya lebih suka
memakai term perempuan, karena wanita dalam term sansekerta
berarti “pemuas nafsu”) di dalam rumah tangga. Di Indonesia sendiri, angka
kasus kekerasan terhadap perempuan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
dan dominan dari hal itu terjadi di dalam rumah tangga. Bahkan sesuai dengan
data tahun lalu dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) “Mitra Perempuan”
, menyebutkan 77,36% pelakunya adalah suami korban. Mengejutkan memang.

Saya sendiri terkaget-kaget,
ketika membaca artikel di salah satu majalah wanita bulanan ini.

Ada

cerita tentang
tingkah laku suaminya yang sangat mengejutkan si istri. Yaitu ketika si istri
berusaha membangunkan suaminya yang sudah hampir dua hari tidak masuk kerja
dengan alasan sedang ada masalah dengan teman kantornya, ketika bangun si suami
langsung memukul istrinya dengan didahului dengan penyiraman segelas air putih
ke muka si istri. Suaminya tersebut memukul bertubi-tubi sampai si istri tidak
kuasa menahan dan terjatuh. Bahkan ketika si istri sudah terjatuh dan tidak
bisa apa-apa lagi pun, suaminya tetap saja memukulnya hingga ibu mertua suami
tersebut mendatangi kamar mereka karena mendengar suara gaduh dan berisik. Baru
suami itu berhenti memukul si istri dan segera kabur ke kamar mandi dan
menguncinya.

 Dari kasus di atas, perempuan yang notabene tidak
(selamanya) kuat selalu menjadi objek kekesalan suami. Suami yang tahu akan hal
itu , selalu menggunakan cara kekerasan terhadap istrinya dengan alasan
penggunaan kekerasan dapat menunjukkan bahwa si suami sangat berkuasa di
hadapannya. Tak ada yang boleh berkuasa terhadap dirinya selain dia. Ketika
ditanya kepada istri korban di atas yang bernama Titi, semula (ketika
berpacaran selama dua tahun) dia sangat tidak menyangka kalau suaminya ini
bakal sangat sadis seperti itu. Memang sebelumnya dia sudah tahu kalau suaminya
itu orangnya cepat emosi dan temperamental. Akhirnya Titi bercerai dengan
suaminya itu.

Istri dalam hal ini ternyata
mendapatkan dua macam kekerasan. Kekerasan fisik dan yang lebih parahnya lagi
mendapat kekerasan mental atau jiwa. Tubuh yang memar atau pun berdarah
logikanya bisa saja disembuhkan dengan pengobatan eksternal. Tetapi kalau yang
rusak itu adalah jiwa (psikologisnya), itu butuh waktu yang sangat lama, bahkan
bertahun-tahun untuk betul-betul sembuh dari segala bentuk trauma dan shock
berkepanjangan. Implikasi terparahnya bisa menyebabkan si istri menjadi gila.
Tapi ini terjadi jika kasus yang dihadapi sudah sangat berat dan kronis.
Sehingga berkemungkinan istri menderita gangguan mental permanen.

Kalau sudah begini yang paling
direpotkan adalah pihak keluarga korban. Betapa tidak, Siapa lagi yang bekal
peduli dengannya? Orang tua korban dapat menjadi suatu figure yang
sangat membantu dalam pertolongan pertama. Orang tualah yang akan melindungi
anak perempuannya itu dari “serangan balik” si suaminya itu. Orang tuanyalah
yang paling tahu bagaimana psikologi dan kepribadian anaknya itu . Dengan
memahami hal tersebut, setidaknya anak dapat menjadikan orang tua menjadi
tempat sandaran sebelum ditangani oleh pihak-pihak yang berkompeten di bidang
perkawainan lainnya. Orang-orang ataupun lembaga-lembaga yang berkompeten itu
bisa dalam bentuk konsultan perkawinan, psikolog, ataupun Kantor Urusan
Perkawinan. Merekalah yang sudah bisa dikatakan expert dalam bidang
perkawinan. Dengan pengalaman dan jam terbangnya yang tinggi itu, diharapkan
dapat memberikan solusi dan advice terhadap para boraban kekerasan suami
tersebut, apakah perkawinan tersebut dilanjutkan (jika masih memungkinkan dan
dalam hal ini, diminta komitmen dan keseriusan suami unutk berubah) ataukah
bercerai. Mereka diberikan opsi dan resiko terhadap masing-masing opsi juga
waktu untuk memikirkan penyelesaian masalah mereka. Karena bagaimanapun,
keputusan tetap di tangan mereka dan para “wedding expert” itu hanya
sebagai mediator dan pemberi saran saja.

Menurut saya pribadi, jika
pasangan Anda mempunyai gejala-gejala temperamen seperti di atas dan bahkan
mempunyai cirri-ciri seperti psikopat, sebaiknya Anda berpikir terlebih dahulu
untuk meneruskan hubungan atau tidak. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
penyesalan di kemudian hari. Apalagi ketika Anda sudah mempunyai anak. Karena
jika Anda bercerai dan Anda sudah mempunyai anak, maka si anak akan menjadi
korban lagi dengan alasan si anak akan kekurangan kasih sayang dari figure
ayahnya dan si Ibu pasti sedikit banyaknya juga akan sangat melelahkan karena
menjadi single parent.

 Jadi, ketika seorang perempuan
dihadapkan terhadap masalah serupa diharapkan agar segera mengambil tindakan preventif
dan proteksi diri agar tidak mendapatkan resiko yang lebih gawat lagi. Karena
kalau si korban hanya diam dan bungkam saja, maka tidak akan ada pihak yang
akan tahu dan pastinya penderitaan korban akan semakin berlarut-larut.

 

One Response to “Wanita Dijajah Pria Sejak Dulu (Sampai Sekarang)”

  1. WeirdHeriawan Says:

    Makanya, jadi cewek jangan lemah….
    Bisa dimulai dengan mengerjakan pekerjaan fisik tanpa dikit2 minta bantuan cowok…

    Terus yang wajib diingat, Jangan sering2 mengatakan kata2 berikut:

    1. “Elo dong yang ngerjain, elo kan cowok..”

    2. “Wajar dong, Gue kan cewek….”

    Karena kata2 tersebut dapat ditangkap sebagai pesan bahwa cewek adalah makhluk lemah. Setuju?

Leave a Reply