Lelaki pemikir
Aku lelaki yang berkelakar tentang cinta
Entah cinta yang datang atau cinta yang pergi
Yang jelas aku berpikir tentang itu
Menunggu siang untuk malam
Begitu penat dengan siang
Dan berharap malam sebagai pelampiasan
Entahlah…
Aku lelaki yang selalu berpikir tentang cinta
Dan hal yang tak lazim dipikirkan orang lain
Malam belum tentu baik untukku
Tapi pada malamlah aku bersandar dalam dingin
Dingin yang belum tentu kudapatkan pada siang
Lelaki sepertiku memang seperti itu
Berpikir tanpa sebab
Sampai akhirnya aku bertanya…apakah aku lelaki dengan cinta?
-Puisi ini adalah buatan Arief Risa, teman (nama panggilannya “bibing”,lebih tepatnya disebut sohib akrab) gw di padang.Puisi ini dibuat di rumah gw pada tanggal 9 Februari 2006 pukul 12.45. Puisi ini juga ini jugalah yang membuat Arief menjuarai lomba apresiasi puisi yang diadakan Radio Classy FM (103,00) pada bukan Maret lalu. Menurut gw ni puisi keren banget! Keren? Karena banyak hal yang tersirat dan tersurat di kata-katanya yang sama dengan gw! “menunggu siang untuk malam, begitu penat dengan siang, dan berharap malam sebagai pelampiasan”. Ya, ketika malam tiba, semua orang sudah berada di alam mimpinya, gw malah duduk di depan meja belajar, mendengar musik dan improvisasi jazz dari Radio JNC (Jazz and Classic), berkontempelasi (gw suka kata2 ini, karena dengan kontemplasi, kita bisa kilas balik apa2 yang sudah kita lakukan siang tadinya) mencoba mengartikan setiap sikap siapa saja orang yang pernah berinteraksi dengan gw siangnya, apakah ada kata2 gw yang salah, benar, sehingga menimbulkan respon yang berbeda2 dari setiap orangnya. Berpikir dan berharap hari esoknya gw dapat lebih sempurna (walaupun tidak akan bisa) lagi dari hari sebelumnya. Terakhir, pada penutup puisi, gw juga memuji kata2 : “sampai akhirnya aku bertanya, apakah aku lelaki tanpa cinta?”. Menurut sudut pandang gw, kata2 itu bisa berarti sebuah pernyataan pesimis si penulis tentang bagaimana keputusasaan dirinya tentang kehadiran (atau ketidakhadiran) “cinta” itu sendiri di kehidupannya. Lo punya persepsi laen?