Jazz Indonesia Setelah Hibernasi

Jazz akhir-akhir ini menggeliat
lagi. Hal ini dibuktikan dengan mulai ramainya lagi artis-artis jazz di
Indonesia dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Semakin banyaknya artis-artis
jazz saat ini merupakan refleksi peningkatan apresiasi dan animo terhadap musik
yang berasal dari New Orleansini. Tidak hanya itu saja, ramainya new comer dari artis-artis jazz mau
tidak mau juga meramaikan panggung-panggung jazz seperti Java Jazz Festival
ataupun panggung-panggung seperti JakJazz yang rajin diadakan.

Bangunnya jazz dari tidur
panjangnya selama ini cukup mengagetkan para artis jazz kawakan seperti Indra
Lesmana ataupun Ireng Maulana. Indra sendiri menyatakan (dikutip dari majalah
Rolling Stone) bahwa dia sangat bangga sekaligus bahagia karena akhir-akhir ini
karya-karya mereka mulai diterima oleh para new jazz lover. Tak ayal
lagi, hal ini memicu frekuensi panggung para artis jazz kita sehingga menjadi
sibuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (bagi para artis jazz lama). Indra
juga memuji para artis jazz saat in sudah tidak ragu dan berani dalam
mengakumulasikan serta mengakulturasikan komposisi jazz dengan musik-musik yang
lebih modern dan dinamis.Penulis sebagai jazz lover
juga merasakan hal yang sama. Saat sekarang jazz sudah bukan komponen musik
yang susah dicerna.

Paramusisi jazz sekarang
baik yang senior ataupun yang junior sudah sangat ahli dalam menarik atensi para
new jazz lover dengan cara-cara yang cukup kreatif dan inovatif. Salah
satunya adalah yang dilakukan oleh Sova. Sova adalah salah satu duo yang berani
mencampurkan musik dance-tekno-komputer dengan sentuhan yang sangat modern dan
sangat urban. Dengan cover album yang minimalis yan notabene merupakan ciri
khas jazz, album-album Sova menjadi salah satu album dan artis yang cukup
diperhitungkan. Penulis pun awalnya tidak sengaja membeli CD-nya. Awalnya
tertarik dengan cover album yang sangt minimalis. Lalu meminta penjual CD
tersebut untuk diperdengarkan dan akhirnya penulis langsung jatuh hati pada
pandangan pertama dengan artis ini. Artis lainnya yang cukup sukses
adalah Mocca. Penulis terkadang suka berdebat dengan jazz lover lainnya
apabila men-judge grup ini dengan aliran jazz. Adajuga salah satu artikel di majalah yang
mengatakan grup ini adalah grup pop dengan sentuhan Swedish (musik pop khas
Swedia). Sebenarnya Mocca adalah grup yang memiliki aliran lit jazz atau
bisa juga disebut dengan soft jazz.

Para penggemar Mocca pun banyak yang remaja. Mereka adalah grup yang sangat cerdas
dengan hasil karya yang mampu membalut jazz dalam touch yang manis dan
minimalis. Aplikasi konfigurasi kord-kord yang menggunakan major 7. ataupun
minor 7. dan juga minor 9 semakin memperkuat keberadaannya sebagai band jazz.

Memang saat sekarang sudah jarang
ditemukan komposisi jazz yang sangat pure dan natural. Tapi, dengan
akulturasi jazz dengan musik-musik lain menunjukkan bahwa jazz semakin eksis di
konstelasi musik di Indonesia. Jazz adalah musik yang sangat fleksibel dan
tidak susah untuk dielaborasikan. Ketika jazz digabungkan dengan klasik (suatu
yang sebelumnya sangat diskeptiskan banyak pihak) ternyata malah menjadi suatu packaging
karya yang ciamik.

Gaung-gaung jazz semakin terasa
setelah Peter F. Gontha, seorang pengusaha kaya yang juga jazz lover,
menjadikan jazz semakin eksis di negeri ini dengan mengadakan acara Java Jazz
yang mendapatkan apresiasi dan animo yang sangat bagus dari jazz lover di
Indonesia. Acara tersebut sangat spektakuler karena diadakan sangat eksklusif
dan dengan harga tiket yang cukup mahal untuk ukuran kantong remaja, tapi
dihadiri banyak sekali kawula muda. Mulai dari yang benar-benar jazz lover
sampai ada yang ikut-ikutan karena penasaran terhadap konsep acaranya.
Sebenarnya acara-acara jazz berkonsep festival seperti ini tidak hanya
dilakukan oleh Java Jazz saja.

Hal ini juga dilakukan oleh Arits
kawakan seperti Ireng Maulana dalam proyek unggulannya sejak era dekade 90-an,
yaitu JakJazz atau Jakarta International Jazz Festival. Festival yang belum
lama ini diselenggarakan yaitu tepatnya pada akhir November lalu cukup sukses
meraih perhatian jazz lover di Indonesia pada umumnya, jazz lover Jakarta
khususnya. Padahal sebelum JakJazz, para jazz lover juga “diguncang” oleh acara
Jazz Goes To Campus yang merupakan pertunjukkan jazz yang secara kontinuitas
diselenggarakan pihak Universitas Indonesia, yaitu oleh Senat
Mahasiswa Fakultas Ekonomi-nya sejak tahun 1978.

Sebelumnya, para musisi jazz Indonesia cukup
sering juga mengadakan konser jazz bertemakan “kemanusiaan”. Contohnya adalah
Konser Jazz Untuk Jogja (saat setelah gempa Jogja April lalu) ataupun saat
satelah tsunami Aceh awal 2005 lalu. Itu membuktikan bahwa jazz juga sangat
peduli dengan keadaan Indonesia
yang akhir-akhir ini sering tertimpa bencana alam.

Di satu sisi, penulis juga
terkadang suka kesal dengan jazz lover “gadungan”. mengapa disebut
gadungan? Hal ini dikarenakan sewaktu ada acara-acara jazz terkadang mereka
cenderung berisik ketika mulai di tengah-tengah pertunjukkan. Hal ini
dimungkinkan karena mereka sebenarnya hanya menonton karena ikut-ikutan dan
biar dianggap keren. Padahal terkadang hal tersebut menjadi suatu kejengkelan.
Tapi penulis sangat menghargai keberadaan mereka dengan ekspektasi suatu saat
nanti mereka bisa menjadi jazz lover yang sebenarnya. Hidup musik jazz
Indonesia.
Hidup musisi Indonesia.

 

 

 

 

Leave a Reply