Archive for January, 2007

Lelaki pemikir

Sunday, January 7th, 2007

Aku lelaki yang berkelakar tentang cinta

Entah cinta yang datang atau cinta yang pergi

Yang jelas aku berpikir tentang itu

Menunggu siang untuk malam

Begitu penat dengan siang

Dan berharap malam sebagai pelampiasan

Entahlah…

Aku lelaki yang selalu berpikir tentang cinta

Dan hal yang tak lazim dipikirkan orang lain

Malam belum tentu baik untukku

Tapi pada malamlah aku bersandar dalam dingin

Dingin yang belum tentu kudapatkan pada siang

Lelaki sepertiku memang seperti itu

Berpikir tanpa sebab

Sampai akhirnya aku bertanya…apakah aku lelaki dengan cinta?

-Puisi ini adalah buatan Arief Risa, teman (nama panggilannya “bibing”,lebih tepatnya disebut sohib akrab)  gw di padang.Puisi ini dibuat di rumah gw  pada tanggal 9 Februari 2006 pukul 12.45. Puisi ini juga ini jugalah yang membuat Arief menjuarai lomba apresiasi puisi yang diadakan Radio Classy FM (103,00) pada bukan Maret lalu. Menurut gw ni puisi keren banget! Keren? Karena banyak hal yang tersirat dan tersurat di kata-katanya yang sama dengan gw! “menunggu siang untuk malam, begitu penat dengan siang, dan berharap malam sebagai pelampiasan”. Ya, ketika malam tiba, semua orang sudah berada di alam mimpinya, gw malah duduk di depan meja belajar, mendengar musik dan improvisasi jazz dari Radio JNC (Jazz and Classic), berkontempelasi (gw suka kata2 ini, karena dengan kontemplasi, kita bisa kilas balik apa2 yang sudah kita lakukan siang tadinya) mencoba mengartikan setiap sikap siapa saja orang yang pernah berinteraksi dengan gw siangnya, apakah ada kata2 gw yang salah, benar, sehingga menimbulkan respon yang berbeda2 dari setiap orangnya. Berpikir dan berharap hari esoknya gw dapat lebih sempurna (walaupun tidak akan bisa) lagi dari hari sebelumnya. Terakhir,  pada penutup puisi, gw juga memuji kata2 : “sampai akhirnya aku bertanya, apakah aku lelaki tanpa cinta?”. Menurut sudut pandang gw, kata2 itu bisa berarti sebuah pernyataan pesimis si penulis tentang bagaimana keputusasaan dirinya tentang kehadiran (atau ketidakhadiran) “cinta” itu sendiri di kehidupannya. Lo punya persepsi laen?Image036

Kecantikan Perempuan

Monday, January 1st, 2007

Ada
juga yang mempersepsikan kecantikan itu adalah personality dan aura inner
seorang perempuan. Jadi, kita akan mempunyai banyak macam jawaban akan hal
ini. 180pxmona_lisa_2
Berbicara tentang
kecantikan siapa pun pasti mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Perihal
mengenai kecantikan perempuan ini seolah tidak pernah habis untuk dikupas. Ad
orang yang ketika ditanya persepsinya tentang kecantikan seorang perempuan
(terutama laki-laki), maka mereka mejawab perempuan cantik itu adalah mempunyai
wajah seperti Cathrine Wilson atau Mariana Renata. Mempunyai bodi yang ideal bahkan
aduhai”.

 Kecantikan
itu sendiri terdiri dari dua macam yaitu, kecantikan dalam (inner beauty)
dan kecantikan luar (outer beauty). Outer beauty atau kecantikan
luar memang dapat direfleksikan dengan bentuk wajah yang ayu, cantik, dan enak
dilihat. Bisa juga mempunyai bentuk tubuh yang bagus dalam arti kata tinggi,
semampai, atau ada juga yang mendefenisikan dengan analogi “seperti gitar
spanyo
l”. Orang yang memandang kecantikan seseorang perempuan bisa juga
dikatakan sebagai faktor ketertarikan seksual. Kebanyakan laki-laki pada
awalnya memang memandang dari segi ini. Ya, walaupun banyak juga yang lebih prefer
dengam inner oriented dalam memilih pasangannya. Baru setelah itu mereka
melihat inner perempuan tersebut. Jika saja inner-nya juga
tidak kalah dengan outer-nya, maka si laki-laki akan semakin kuat untuk
memilih perempuan tersebut untuk calon pasangannya. Itu adalah anekdot
(terkadang juga realita) dalam dunia lelaki.

Inner beauty.Ada
suatu pernikahan yang didasari dengan ketertarikan fisik semata, bukan
ketertarikan personality, biasanya akan rapuh dan tidak jarang dari
mereka yang berujung dengan perceraian. Ironis, bukan? Memang dalam hal ini
kita dituntut lebih wisdom dan cerdas. Jangan hanya ketertarikan
terhadap physicaly saja lalu kita sudah memutuskan bahwa itu adalah
pilihan untuk pasangan lita. Hal ini juga bisa dipakai dalam memilih pria oleh
wanita. dalam hal ini lebih ditekankan kepada bagaimana personality
(kepribadian) seorang perempuan, bagaimana sikapnya terhadap siapa saja,
bagaimana keanggunan atau juga sisi feminin yang diimpresikan oleh perempuan
tersebut. Seorang perempuan yang mempunyai inner beauty tetapi tidak
(atau lebih tepatnya lagi kurang) memiliki outer beauty, biasanya akan
lebih baik daripada seorang perempuan yang mempunyai outer beauty saja
tanpa personality yang baik. Karena pada dasarnya, seseorang
berinteraksi dengan orang lain (perempuan) bukan hanya melihat paras cantiknya
saja. Saya saja bakal lebih memilih berteman dengan paras wajah yang
biasa-biasa saja ketimbang berteman dengan perempuan yang berparas cantik
tetapi memiliki kepribadian yang jelek. Kita berintraksi dan bergaul juga butuh
rasa confort atau kenyamanan. Di
dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kita dihadapkan dengan
masalah-masalah seperti ini.

Inner juga bisa dikaitkan dengan kepintaran seseorang
perempuan. Walaupun seorang perempuan memiliki kecantikan yang biasa-biasa
saja, tetapi dia sangat pintar dari segi kecerdasan, maka itu juga merupakan
suatu poin tersendiri bagi si perempuan. Lagian tidak semua laki-laki yang
mengharuskan dalam kriteria pasangannya harus cantik luar.
Penulis pernah punya
pengalaman dari seorang teman dekat (perempuan), dimana dia menceritakan tentang
nasibnya yang (menurutnya) malang
dan patut dikasihani. Hal
ini dikarenakan, dirinya tidak pernah mempunyai pasangan yaitu pacar. Sementara
teman-temannya yang lain, sudah banyak yang mempunyai pacar. Dia juga
berpendapat bahwa dia tidak seberuntung teman-temannya yang lain yang memiliki
tubuh yang cantik dan menarik. Dia sangat pesimis dan beranggapan bahwa cara
satu-satunya agar dia mendapat pacar atau pasangan yaitu harus dia yang lebih
“agresif”. Karena kalau tidak, jangan harap dirinya mendapat pasangan. Setelah
mendengar pernyataan tersebut, penulis hanya bisa meyakinkan bahwa itu tidak
selamanya benar dan tetap optimis bahwasanya tidak semua laki-laki memandang
perempuan dari kacamata “fisik”nya saja.

Guitar_1

Dari
hal diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa orang mempunyai persepsi yang
varitif mengenai kecantikan. Hal ini bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pola
pikir yang ditanamkan oleh keluarganya, atau gejala yang berkembang saat itu.
Jadi, bagi Anda yang perempuan segeralah merubah pola pikir negatif Anda
mengenai kecantikan. Jangan hanya karena kecantikan Anda melakukan segala cara
sampai yang haram sekalipun agar mendapat pengakuan cantik dari kaum Adam.
Ingat, Anda harus jadi diri sendiri dan optimalkan apa yang sudah ada di diri Anda.
Karena hal itu salah satu manifestasi rasa syukur Anda kepada diri Anda dan
Dia.

Jazz Indonesia Setelah Hibernasi

Monday, January 1st, 2007

Jazz akhir-akhir ini menggeliat
lagi. Hal ini dibuktikan dengan mulai ramainya lagi artis-artis jazz di
Indonesia dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Semakin banyaknya artis-artis
jazz saat ini merupakan refleksi peningkatan apresiasi dan animo terhadap musik
yang berasal dari New Orleansini. Tidak hanya itu saja, ramainya new comer dari artis-artis jazz mau
tidak mau juga meramaikan panggung-panggung jazz seperti Java Jazz Festival
ataupun panggung-panggung seperti JakJazz yang rajin diadakan.

Bangunnya jazz dari tidur
panjangnya selama ini cukup mengagetkan para artis jazz kawakan seperti Indra
Lesmana ataupun Ireng Maulana. Indra sendiri menyatakan (dikutip dari majalah
Rolling Stone) bahwa dia sangat bangga sekaligus bahagia karena akhir-akhir ini
karya-karya mereka mulai diterima oleh para new jazz lover. Tak ayal
lagi, hal ini memicu frekuensi panggung para artis jazz kita sehingga menjadi
sibuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (bagi para artis jazz lama). Indra
juga memuji para artis jazz saat in sudah tidak ragu dan berani dalam
mengakumulasikan serta mengakulturasikan komposisi jazz dengan musik-musik yang
lebih modern dan dinamis.Penulis sebagai jazz lover
juga merasakan hal yang sama. Saat sekarang jazz sudah bukan komponen musik
yang susah dicerna.

Paramusisi jazz sekarang
baik yang senior ataupun yang junior sudah sangat ahli dalam menarik atensi para
new jazz lover dengan cara-cara yang cukup kreatif dan inovatif. Salah
satunya adalah yang dilakukan oleh Sova. Sova adalah salah satu duo yang berani
mencampurkan musik dance-tekno-komputer dengan sentuhan yang sangat modern dan
sangat urban. Dengan cover album yang minimalis yan notabene merupakan ciri
khas jazz, album-album Sova menjadi salah satu album dan artis yang cukup
diperhitungkan. Penulis pun awalnya tidak sengaja membeli CD-nya. Awalnya
tertarik dengan cover album yang sangt minimalis. Lalu meminta penjual CD
tersebut untuk diperdengarkan dan akhirnya penulis langsung jatuh hati pada
pandangan pertama dengan artis ini. Artis lainnya yang cukup sukses
adalah Mocca. Penulis terkadang suka berdebat dengan jazz lover lainnya
apabila men-judge grup ini dengan aliran jazz. Adajuga salah satu artikel di majalah yang
mengatakan grup ini adalah grup pop dengan sentuhan Swedish (musik pop khas
Swedia). Sebenarnya Mocca adalah grup yang memiliki aliran lit jazz atau
bisa juga disebut dengan soft jazz.

Para penggemar Mocca pun banyak yang remaja. Mereka adalah grup yang sangat cerdas
dengan hasil karya yang mampu membalut jazz dalam touch yang manis dan
minimalis. Aplikasi konfigurasi kord-kord yang menggunakan major 7. ataupun
minor 7. dan juga minor 9 semakin memperkuat keberadaannya sebagai band jazz.

Memang saat sekarang sudah jarang
ditemukan komposisi jazz yang sangat pure dan natural. Tapi, dengan
akulturasi jazz dengan musik-musik lain menunjukkan bahwa jazz semakin eksis di
konstelasi musik di Indonesia. Jazz adalah musik yang sangat fleksibel dan
tidak susah untuk dielaborasikan. Ketika jazz digabungkan dengan klasik (suatu
yang sebelumnya sangat diskeptiskan banyak pihak) ternyata malah menjadi suatu packaging
karya yang ciamik.

Gaung-gaung jazz semakin terasa
setelah Peter F. Gontha, seorang pengusaha kaya yang juga jazz lover,
menjadikan jazz semakin eksis di negeri ini dengan mengadakan acara Java Jazz
yang mendapatkan apresiasi dan animo yang sangat bagus dari jazz lover di
Indonesia. Acara tersebut sangat spektakuler karena diadakan sangat eksklusif
dan dengan harga tiket yang cukup mahal untuk ukuran kantong remaja, tapi
dihadiri banyak sekali kawula muda. Mulai dari yang benar-benar jazz lover
sampai ada yang ikut-ikutan karena penasaran terhadap konsep acaranya.
Sebenarnya acara-acara jazz berkonsep festival seperti ini tidak hanya
dilakukan oleh Java Jazz saja.

Hal ini juga dilakukan oleh Arits
kawakan seperti Ireng Maulana dalam proyek unggulannya sejak era dekade 90-an,
yaitu JakJazz atau Jakarta International Jazz Festival. Festival yang belum
lama ini diselenggarakan yaitu tepatnya pada akhir November lalu cukup sukses
meraih perhatian jazz lover di Indonesia pada umumnya, jazz lover Jakarta
khususnya. Padahal sebelum JakJazz, para jazz lover juga “diguncang” oleh acara
Jazz Goes To Campus yang merupakan pertunjukkan jazz yang secara kontinuitas
diselenggarakan pihak Universitas Indonesia, yaitu oleh Senat
Mahasiswa Fakultas Ekonomi-nya sejak tahun 1978.

Sebelumnya, para musisi jazz Indonesia cukup
sering juga mengadakan konser jazz bertemakan “kemanusiaan”. Contohnya adalah
Konser Jazz Untuk Jogja (saat setelah gempa Jogja April lalu) ataupun saat
satelah tsunami Aceh awal 2005 lalu. Itu membuktikan bahwa jazz juga sangat
peduli dengan keadaan Indonesia
yang akhir-akhir ini sering tertimpa bencana alam.

Di satu sisi, penulis juga
terkadang suka kesal dengan jazz lover “gadungan”. mengapa disebut
gadungan? Hal ini dikarenakan sewaktu ada acara-acara jazz terkadang mereka
cenderung berisik ketika mulai di tengah-tengah pertunjukkan. Hal ini
dimungkinkan karena mereka sebenarnya hanya menonton karena ikut-ikutan dan
biar dianggap keren. Padahal terkadang hal tersebut menjadi suatu kejengkelan.
Tapi penulis sangat menghargai keberadaan mereka dengan ekspektasi suatu saat
nanti mereka bisa menjadi jazz lover yang sebenarnya. Hidup musik jazz
Indonesia.
Hidup musisi Indonesia.

 

 

 

 

Wanita Dijajah Pria Sejak Dulu (Sampai Sekarang)

Monday, January 1st, 2007

 

Anda yang perempuan, saya rasa pasti setuju dengan statement
saya di atas. Wanita dijajah pria yang saya angkat dalam karangan kali ini
adalah mengenai kekerasan terhadap perempuan (sebenarnya saya lebih suka
memakai term perempuan, karena wanita dalam term sansekerta
berarti “pemuas nafsu”) di dalam rumah tangga. Di Indonesia sendiri, angka
kasus kekerasan terhadap perempuan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
dan dominan dari hal itu terjadi di dalam rumah tangga. Bahkan sesuai dengan
data tahun lalu dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) “Mitra Perempuan”
, menyebutkan 77,36% pelakunya adalah suami korban. Mengejutkan memang.

Saya sendiri terkaget-kaget,
ketika membaca artikel di salah satu majalah wanita bulanan ini.

Ada

cerita tentang
tingkah laku suaminya yang sangat mengejutkan si istri. Yaitu ketika si istri
berusaha membangunkan suaminya yang sudah hampir dua hari tidak masuk kerja
dengan alasan sedang ada masalah dengan teman kantornya, ketika bangun si suami
langsung memukul istrinya dengan didahului dengan penyiraman segelas air putih
ke muka si istri. Suaminya tersebut memukul bertubi-tubi sampai si istri tidak
kuasa menahan dan terjatuh. Bahkan ketika si istri sudah terjatuh dan tidak
bisa apa-apa lagi pun, suaminya tetap saja memukulnya hingga ibu mertua suami
tersebut mendatangi kamar mereka karena mendengar suara gaduh dan berisik. Baru
suami itu berhenti memukul si istri dan segera kabur ke kamar mandi dan
menguncinya.

 Dari kasus di atas, perempuan yang notabene tidak
(selamanya) kuat selalu menjadi objek kekesalan suami. Suami yang tahu akan hal
itu , selalu menggunakan cara kekerasan terhadap istrinya dengan alasan
penggunaan kekerasan dapat menunjukkan bahwa si suami sangat berkuasa di
hadapannya. Tak ada yang boleh berkuasa terhadap dirinya selain dia. Ketika
ditanya kepada istri korban di atas yang bernama Titi, semula (ketika
berpacaran selama dua tahun) dia sangat tidak menyangka kalau suaminya ini
bakal sangat sadis seperti itu. Memang sebelumnya dia sudah tahu kalau suaminya
itu orangnya cepat emosi dan temperamental. Akhirnya Titi bercerai dengan
suaminya itu.

Istri dalam hal ini ternyata
mendapatkan dua macam kekerasan. Kekerasan fisik dan yang lebih parahnya lagi
mendapat kekerasan mental atau jiwa. Tubuh yang memar atau pun berdarah
logikanya bisa saja disembuhkan dengan pengobatan eksternal. Tetapi kalau yang
rusak itu adalah jiwa (psikologisnya), itu butuh waktu yang sangat lama, bahkan
bertahun-tahun untuk betul-betul sembuh dari segala bentuk trauma dan shock
berkepanjangan. Implikasi terparahnya bisa menyebabkan si istri menjadi gila.
Tapi ini terjadi jika kasus yang dihadapi sudah sangat berat dan kronis.
Sehingga berkemungkinan istri menderita gangguan mental permanen.

Kalau sudah begini yang paling
direpotkan adalah pihak keluarga korban. Betapa tidak, Siapa lagi yang bekal
peduli dengannya? Orang tua korban dapat menjadi suatu figure yang
sangat membantu dalam pertolongan pertama. Orang tualah yang akan melindungi
anak perempuannya itu dari “serangan balik” si suaminya itu. Orang tuanyalah
yang paling tahu bagaimana psikologi dan kepribadian anaknya itu . Dengan
memahami hal tersebut, setidaknya anak dapat menjadikan orang tua menjadi
tempat sandaran sebelum ditangani oleh pihak-pihak yang berkompeten di bidang
perkawainan lainnya. Orang-orang ataupun lembaga-lembaga yang berkompeten itu
bisa dalam bentuk konsultan perkawinan, psikolog, ataupun Kantor Urusan
Perkawinan. Merekalah yang sudah bisa dikatakan expert dalam bidang
perkawinan. Dengan pengalaman dan jam terbangnya yang tinggi itu, diharapkan
dapat memberikan solusi dan advice terhadap para boraban kekerasan suami
tersebut, apakah perkawinan tersebut dilanjutkan (jika masih memungkinkan dan
dalam hal ini, diminta komitmen dan keseriusan suami unutk berubah) ataukah
bercerai. Mereka diberikan opsi dan resiko terhadap masing-masing opsi juga
waktu untuk memikirkan penyelesaian masalah mereka. Karena bagaimanapun,
keputusan tetap di tangan mereka dan para “wedding expert” itu hanya
sebagai mediator dan pemberi saran saja.

Menurut saya pribadi, jika
pasangan Anda mempunyai gejala-gejala temperamen seperti di atas dan bahkan
mempunyai cirri-ciri seperti psikopat, sebaiknya Anda berpikir terlebih dahulu
untuk meneruskan hubungan atau tidak. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
penyesalan di kemudian hari. Apalagi ketika Anda sudah mempunyai anak. Karena
jika Anda bercerai dan Anda sudah mempunyai anak, maka si anak akan menjadi
korban lagi dengan alasan si anak akan kekurangan kasih sayang dari figure
ayahnya dan si Ibu pasti sedikit banyaknya juga akan sangat melelahkan karena
menjadi single parent.

 Jadi, ketika seorang perempuan
dihadapkan terhadap masalah serupa diharapkan agar segera mengambil tindakan preventif
dan proteksi diri agar tidak mendapatkan resiko yang lebih gawat lagi. Karena
kalau si korban hanya diam dan bungkam saja, maka tidak akan ada pihak yang
akan tahu dan pastinya penderitaan korban akan semakin berlarut-larut.