Kronik Industri Musik Indonesia : Ketika Pembajakan Telah “Dilegalkan”

April 4th, 2008 by fajarjazz

“Indonesia termasuk negara paling gila di dunia
karena penjualan barang bajakan hanya berjarak 100 meter dari depan Istana
Negara” (penuturan James F. Sundah, pencipta lagu terkenal dan Ketua Bidang
Teknologi & Informasi PAPRI)

Industri musik Indonesia saat
ini betul-betul dalam keadaan gawat-darurat. Semakin tingginya angka
pembajakan terhadap karya musisi Indonesia baik berupa kaset dan cd
membuat royalti yang seharusnya diterima oleh para musisi (setelah dibagi olel
para label rekaman dan produser) harus dengan rela hati diberikan kepada para
insan pembajak tersebut. Lalu kemana alternatif para pelaku industri musik
kita? Beberapa sudah melakukan kerjasama dengan produk komersil melalui iklan
atau pun melalui kerjasama dengan provider selular lewat ring back tone
(nada dering tunggu). Namun hal ini juga tidak mungkin menjadi harapan
sertatumpuan terakhir.

            Menurut data dari
ASIRI (Asosiasi Rekamaman Indonesia) peredaran bajakan karya rekaman
suara berkembang pesat dari tahun ke tahun. Bayangkan, dari tahun 1996
jumlah peredarannya adalah 23.068.225. Fluktuasi tersebut terus menuju angka
385.701.129 pada tahun 2006. dan terakhir pada tahun 2007. angka tersebut naik
lagi menjadi 443.556.298 atau naik sekitar 15% dari tahun 2006). lalu bagaimana
dengan angka pada tahun 2008 nantinya setelah ditabulasi? Kenaikan tersebut
juga berbanding terbalik dengan peredaran produk legalnya, yaitu 23.736.355
pada tahun 2006 dan 19.398.208 tahun 2007.

Pada teori hubungan antar grup (intergroup relations
theory
) menjelaskan bagaimana hubungan antara sebuah kelompok dengan
kelompok lain dengan masing-masing anggotanya dan terdapat interaksi antara
satu orang atau kolektif satu kelompok dengan kelompok lainnya. Demikian dengan
kronik pembajakan di industri musik ini. Kelompok dibagi
menjadi tiga, yaitu industri musik, pemerintah, konsumen dan pembajak itu
sendiri.
Ketiga kelompok tersebut memainkan peran yang
sangat signifikan dan saling memengaruhi satu sama lainnya. Tulisan ini akan
membagi beberapa fakta, asumsi, dan penjelasan tentang peran masing-masingnya.

Pertama dari pihak industri musik Indonesia. Industri musik dibagi menjadi dua lagi, yaitu pihak label rekaman dan
musisi (artis). Saat ini dua pihak tersebut (musisi dan pihak label rekaman)
memang dilanda kebingungan. Setiap artis berkuras otak untuk menghasilkan karya
musiknya. Hampir seluruh musisi tersebut menghasilkan album rekaman satu kali
dalam setahun (itupun bagi musisi besar ataupun lumayan besar). Dalam satu
tahun tersebut mereka betul-betul meriset bagaimana pola animo pasar agar hasil
karya mereka diterima oleh pendengar.
Tidak jarang pada
saat selesainya karya mentah mereka, justru dimentalkan kembali oleh pihak
label rekaman dan produser. Namun ketika karya mereka sudah selesai dan siap
dilempar ke pasaran, ketika itu pula karya mereka harus siap-siap dibajak.

Dahulunya mereka menjadikan penjualan kaset dan CD untuk mendapatkan
royalti sebagai hasil jerih payah. Menurut Jan Juhana dalam Majalah Rolling
Stone Indonesia
(Senior A&R Director Sony BMG Indonesia), penjualan
kaset dan CD sejuta keping (1) seperti akhir dekade 90an akan menjadi impossible
dream
semata untuk saat sekarang dan ke depannya. Raja menjadi musisi
terakhir yang berhasil mendapatkan angka 500 ribu untuk penjualan kaset dan CD
album Hanya Untukmu (2007).

Turunnya penjualan fisik berupa kaset dan CD dari artis-artis pihak label
rekaman tersebut telah merumahkan sebagian staf produksinya. Diantaranya adalah
PT Aquarius Musikindo. Beruntung label ini memunyai arits seperti Melly, Agnes
Monica, dan Bunga Citra Lestari yang notabene adalah artis yang lolos dari
krisis ini (dikutip dari Majalah Rolling Stone Indonesia).

Pihak berikutnya adalah pembajak. Pembajak disini
dibagi menjadi dua, yaitu pelaku pembajakan (yang memroduksi secara masal
kaset, CD, ataupun CD MP3 dan memdistribusikannya ke agen). ”Hasil karya”
mereka untuk tahun lalu dibanding dengan produk legal adalah 95,7% dan
4,3% (data ASIRI). Di Jakarta sendiri,
pusat penjualan barang bajakan adalah di kawasan Glodok dengan tempat yang
populer dengan nama Penampungan. Di sanalah para pengecer mendapatkan CD, CD
MP3 maupun DVD mulai karya Nidji, Peter
Pan, sampai karya Dewi Yull & Broery Marantika. Pembeli yang datang pun
bahkan berasal dari luar Jakarta. Tujuan pembeli tersebut termasuk untuk dijual
kembali ataupun untuk dinikamati kembali di rumah.

Di Bogor, ada sebuah tempat penjualan CD bajakan. Tepatnya di jalan Kapten Muslihat. Di sana terdapat belasan lapak dan
ironisnya tempat tersebut hanya beberapa meter dari Kantor Polres. Ketika
ditanyai kepada penjualnya tentang perasaan kalau saja akan ada razia, mereka
dengan santai berkata bahwa bapak-bapak polisi itu banyak yang langganan di
sini (karena disuap oleh si penjual atau minimnya gaji mereka hingga sampai
membeli bajakan?)

Pihak ketiga adalah pemerintah. Dalam hal ini
dibagi menjadi beberapa ikon, seperti pihak kepolisian sebagai eksekutor di
lapangan, pihak pengadilan, ataupun pembuat Undang-undang. Pada Undang-undang
No 19 tentang hak cipta ternyata belum cukup untuk memberangus para pembajak
tersebut. Michael Edwin selaku General Manager ASIRI  juga menjelaskan bahwa pemerintah kita sudah
punya political will sejak lama. Tetapi tidak untuk political action.
Indikasinya adalah para penjual barang bajakan tadi. Bahkan, dia berasumsi
bahwa hal ini jugalah yang mengakibatkan semakin menggelembungnya produksi
mereka.

James F. Sundah menceritakan bahwa dirinya dan PAPRI (Persatuan Artis,
Pencipta Lagu, dan Penata Rekam Indonesia) sudah menghadap Bagir Manan selaku
Ketua Mahkamah Agung RI untuk memertanyakan kasus pelanggaran hak cipta yang
sampai ke taraf MA selama kurun waktu 2003-2007. Namun ternyata tidak ada kasus
yang sampai ke sana. Semuanya mentah di kepolisian maupun kejaksaan tambahnya. Sedangkan
tingkat pengadilan tinggi  dan Mahkamah
Agung juga nihil.

Pihak berikutnya adalah konsumen. Konsumen di sini
terbagi menjadi dua, konsumen yang membeli karya original dan konsumen yang
membeli karya bajakan. Sebenarnya peran konsumen disini juga besar. Bayangkan
saja, jika para konsumen itu sadar dengan apa yang dilakukannya itu telah
merugikan banyak sekali musisi, para pemilik, staf, dan pegawai label rekaman dengan tidak membeli
karya bajakan tersebut, maka sudah dipastikan angka pembajakan tersebut tidak
ada, paling tidak sangatlah kecil.

Penulis iseng-iseng berdiskusi dengan salah seorang teman dan berbicara
tentang topik ini. Lalu dia menjawab, ”kalau ada yang lebih murah, kenapa beli
yang mahal”. Sebenarnya dalam beberapa artikel sumber penulis, hampir semuanya
menyebutkan indikasi yang sama (baca: predisposisi untuk membeli yang murah).
Hal ini berdasar kutipan dari Majalah Mix, Amalia Maulana (pakar riset
pemasaran etnografi dari Universitas Bina Nusantara) menjelaskan bahwa faktor
harga adalah nomor satu bagi konsumen Indonesia. Bisa dibayangkan, CD MP3 yang
dibanderol dengan haga Rp. 5000- Rp. 7000 itu, sudah memiliki konten hingga
sepuluh album/artis.
Sedangkan jika membeli CD
asli, harganya bisa Rp. 35.000 - Rp.
50.000 untuk artis Indonesia. Kalau kita kalikan sepuluh album/artis?

Ternyata tidak itu saja, menurunnya omset penjualan album fisik dari
artis-musisi Indonesia saat ini ternyata juga dipengaruhi oleh tren konsumsi
saat ini. Ring Back Tone atau nada dering tunggu telah menjadi pilihan
mereka. Dengan sekali download seharga Rp. 3000 – Rp. 9.000 dengan masa
aktif hingga tiga puluh hari telah menjadi favorit para konsumen musik
Indonesia. Bahkan dikutip dari EMI Musik Indonesia didapat bahwa download
sebanyak 1.3 juta terhadap lagu Hanya Ingin Kau Tahu dari Repvblik Band (Baca:
Republilk Band). Bahkan download terbanyak didapat dari download lagu
Munajat Cinta-nya The Rocks.

Pola konsumen di Indonesia ini terbilang beda dari perkembangan
negara-negara lain. Di luar negeri, penjualan album fisik digantikan dengna
tren download lagu utuh atau download satu album dengan harga
yang lebih murah dari album fisik. Namun, hal ini belum terlalu familiar
di Indonesia. Kalau adapun, paking hanya segelintir kelompok orang saja.
Bagi orang yang melek internet dan gadget-gadget baru. Bahkan ada
yang melakukannya atas dasar gaya hidup modern saja.

Abdee, gitaris Slank dalam blog karya Wendi Putranto di situs Multiply juga
menjelaskan bahwa rendahnya animo konsumen dalam pembelian musik lewat digital
juga disebabkan karena lambannya koneksi internet di Indonesia dan juga harus
bersaing dengan penjual CD dan CD MP3 bajakan

Dalam teori hubungan antar kelompok tersebut ternyata semakin kurang baik.
Para pelaku industri musik tersebut ternyata sangat kecewa dengan tindakan yang
sangat lambat bahkan bisa dibilang tidak ada dari aparat penegak hukum.
Akhirnya tercitpalah yang namanya prasangka. Sesuai dengan definisi menurut
Baron & Byrne (2000) yaitu suatu sikap yang biasanya negatif terhadap
anggota-anggota pada beberapa grup tertentu. Hal tersebut juga diperkuat dengan
pencitraan yang cenderung negatif dari masyarakat terhadap aparat penegak
hukum, baik itu polisi, jaksa ataupun hakim. Beruntung kalau artis/musisi
tersebut cukup secara finansial untuk mengurus kasus pembajakan ini kepada
mereka. Jika yang dirugikan adalah artis/musisi yang tidak kaya, maka mungkin
harapan bahwa kasus itu akan diusut hanya akan menjadi isapan jempol belaka.

Dalam salah satu sumber berupa blog yang berisi tentang pembajakan musik di
Indonesia terdapat beberapa komentar dari pembaca blog tersebut. Diantaranya
ada yang berpendapat tentang kesetujuannya terhadap pembajakan. Hal ini
dikarenakan harga kaset dan CD yang mahal sehingga fair-fair saja untuk
dibajak. Ditambah lagi menurutnya, artis/musisi itu juga sudah kaya, jadi
kenapa harus membuat mereka menjadi lebih kaya dengan membeli karya original
mereka (anti kapitalis). Hal ini mengindikasikan adanya prasangka dari konsumen
terhadap pihak industri musik.

Sesuai dengan teori transformasi konflik yang menyatakan bahwa konflik
tersebut timbul karena ketimpangan struktural yang disebabkan adanya
ketidakadilan struktur yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, politik,
budaya, ekonomi yang nantinya menjadi bibit konflik sosial. Oleh karena itu
bukan tidak mungkin ketika badan hukum dan perangkatnya tetap tidak berkomitmen
terhadap UU No 19 tahun 2002 tersebut, maka industri musik Indonesia akan
hancur dan eksesnya bisa meliputi PHK yang tidak sedikit dari pekerja-pekerja
di dalamnya. Publik akan semakin tidak percaya dengan euforia yang
digembar-gemborkan oleh institusi kepolisian yang akan mengayomi masyarakat
atapun lembaga hukum yang bebas money politic

Para pembajak seolah merasa ”terlindungi” dengan kegiatan mereka yang
jelas-jelas merugikan banyak pihak tersebut. Produksi mereka tidak terganggu.
Hal yang permisif ini juga disambut positif dengan konsumen CD/MP3 bajakan yang
baru ataupun lama. Mereka seolah diberi reinforcement terhadap situasi ini.
Mereka juga sebagai publik, diasumsikan akan berdalih bahwa tindakan mereka
”dibenarkan” oleh hukum. Habisnya para pembajak semakin banyak dan aparat
penegak hukum seolah tutup mata saja.

Konflik yang terjadi di sini memang bukan konflik yang memicu kekerasan (violence
maker). Bahkan hampir juga tidak meneteskan darah. Namun, ada hak-hak dan
kepemilikan intelektual dari mereka yang
dibajak karya dan idenya. Padahal kekeyaan intelektual bukanlah sesuatu yang
remeh. Karya seni bagi mereka yang memroduksinya merupakan hasil segenap
kemampuan dan perasaan estetis yang tidak semua orang bisa melakukannya. Oleh
karena itu wajar-wajar saja ketika kepemilikian mereka disalahgunakan akan
menimbulkan respon yang negatif. Lalu,
apa yang bisa kita semua perbuat agar masalah ini tidak menggerogoti industri
musik Indonesia terus-menerus?

 

Penyelesaian terhadap pembajakan di Indonesia

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memutus tali rantai ini. Salah
satunya seperti yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa bulan
terakhir. Dengan bekerjasama dengan PAPRI untuk mensosialisasikan kampanye anti-pembajakan
mereka mengeluarkan album yang lagu-lagunya diciptakan dan dinyanyikan oleh
Presiden sendiri. Namun, album itu pun tidak luput dari pembajakan. Tapi cara
tersebut setidaknya sudah mengandung niat yang baik untuk kasus yang kronis
ini.

Sesuai dengan resolusi konflik, disebutkan bahwa mengatasi konflik secara
non kekerasan dan bukan dengan opresi dan dapat memenuhi tuntutan semua pihak.
Oleh karena itu, penyelesaian lain yang ditawarkan adalah tentang peran aparat
penegak hukum. Dengan komitmen mereka terhadap UU tersebut, maka produksi
kepingan-kepingan bajakan tersebut akan segera direduksi. Mereka punya sangat
cukup alasan untuk menciduk komplotan pembajak tersebut. Hal itu juga tidak
terlepas dari kerjasama polisi, jaksa, dan hakim nantinya. Diharapkan juga agar
tidak adanya politik uang dalam kasus ini yang mengakibatkan tebang pilih dan
tidak terjadi kasus-kasus yang mentah saja ketika samapi ke kepolisian.

Dalam hal ini, juga diperlukan juga kooperatif dan negosiasi antara
pihak industri musik dan aparat penegak
hukum yang dimediasi oleh lembaga-lembaga terkait yang seperti PAPRI ataupun ASIRI sehingga
dapat titik terang antara kedua pihak. Dikarenakan masing-masing pihak akan
saling mengetahui aspirasi dan hambatan yang ada selama ini.

Dari pihak konsumen pun sangat bisa memutuskan mata rantai pembajakan ini.
Dengan tidak membeli barang bajakan, maka penjualan mereka akan menurun drastis
dan prospek mereka juga akan negatif dan berkurang. Terkesan utopis. Namun
bukan tidak mungkin untuk diwujudkan. Para konsumen yang merasa keadaan
finansialnya menengah apalagi mengengah ke atas, sangat diharapkan untuk tidak
membeli produksi bajakan. Setidaknya mereka tidak punya alasan untuk tidak
membeli original dikarenakan keadaan ekonomi mereka, bukan?

Pihak lain yang juga bisa berkontribusi adalah seperti pihak pemilik gedung
ruko ataupun mal. Tempat yang sangat potensial untuk penjualan barang bajakan.
Mereka bisa melakukan pelarangan aktivitas berjualan barang bajakan dan bila
ketahuan akan diperingati, didenda, bahkan dicabut hak berjualannya di tempat
tersebut.

                Jika saja semua bentuk-bentuk penyelesaian dapat ditempuh dengan kooperatif
dan pikiran terbuka, penulis yakin pembajakan yang terjadi di ranah industri
musik Indonesia tersebut akan segera lenyap. Itu artinya, para insan musik dan
pihak-pihak yang terkait bisa kembali menjalankan roda bisnisnya tanpa ada lagi
benalu yang menggerogoti sari yang ada di tubuhnya.

Bahan Bacaan

Christy, Daniel J., Wagner, Richard v., Winter, Deborah Du Nann Winter.
2001. Peace, Conflict, and Violence. New Jersey. Prentice Hall

Baron, Robert A. & Donn Byrne. 2004. Psikologi Sosial Edisi
Kesepuluh
. Jakarta : Erlangga

Brewer, Marylin B. 2003. Intergroup Relations. Philadelphia : Open University Press.

Majalah Rolling Stone Indonesia, edisi bulan Maret 2008

Sumber Internet :

www.indonesiaselebriti.com

www.indonesia.go.id

www.wendiputranto.Multiply.com

www.wordpress.com

semua artikel dari internet diakses pada tanggal 1 April pukul 11.00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengamati Perkembangan Musik Indonesia : Dua Sisi

January 21st, 2008 by fajarjazz

Pianoforte_3_tasti_ Pada Majalah Rolling Stones Indonesia edisi terakhir tahun 2007, memberikan judul 150 album terbaik Indonesia. Sejenak judul itu merefleksikan album-album apa saja yang menurut survuei dan interpretasi (mereka saja?) tentang album-album yang memunyai kualitas diatas rata-rata dan telah memberi pengaruh terhadap perkembangan musik Indonesia hingga sekarang. Lalu, pada hampir di halaman terakhir ada rubrik yang cukup membuat kita menjadi terpingkal. Betapa tidak, halaman tersebut berisi tentang tiga album terburuk tahun 2007. Isinya antara lain, album OST BBB (Bukan Bintang Biasa), Kangen Band (Tentang Aku, Engkau, dan Dia), dan terakhir album The Rock (Mister Master Ahmad Dhani).

        Setelah membaca artikel tersebut, saya bingung dan bertanya dalam hati, ”apakah album mereka sampai segitu jeleknya (juga buruk) sampai diberikan predikat tersebut?”. Tapi bagi saya butuh seribu alasan dan seribu bukti untuk memverifikasi judgement ”terburuk” terhadap tiga karya musik tersebut.  Dalam pikiran saya, memang ada standar baku terhadap sebuah karya musik? Sehingga seorang pelaku resensi album dengan seenaknya memberikan label tersebut? Tidak sesuperficial itu juga , sih. Pastinya mereka memiliki segudang alasan dan pastinya segudang bukti.

        Sejak itu saya semakin tertarik untuk mengobservasi lebih dalam lagi tentang progres musik indonesia kira-kira satu setengah tahun ini. Untuk tiga album di atas, saya lebih perhatikan lagi komposisi musiknya dan mulai membaca artikel-artikel tentang mereka. Tentang Kangen Band, saya jadi tertarik dengan mereka. Coba Anda bayangkan, hampir semua orang teman-teman saya memperolokkan band tersebut. Mereka bilang band kampungan, musiknya menye-menye-lah, tidak berkuakitaslah, dan segudang hujatan lainnya kepada mereka.

Tapi apa yang terjadi? Mereka semakin populer saja. Di TV saja, seperti dalam acara-acara musik ataupun non musik yang menghadirkan band, nama mereka semakin ”ada” saja. Bahkan beberapa bulan yang lalu, Metro TV dalam acara Kick Andy, acara tersebut dengan sengaja mengangkat kisah perjalanan kesuksesan karier mereka yang dimulai dari bawah. Alhasil, acara tersebut menuai protes yang tidak sedikit terhadap saluran televisi swasta tersebut. Bahkan, dalam album perdana duo T2 (salah satu personilnya ”Tiwi AFI”), dengan hits pertama mereka yang berjudul ”Lelaki Cadangan” itu ternyata karangan gitaris Kangen Band. Setelah mendapatkan dan mendengarkan rekaman lagu tersebut, saya justru kaget karena komposisi dan konfigurasi kordnya hampir mirip dengan lagu-lagu Melly Goeslaw (awalnya sebelum notice kalau itu lagu karangannya dia, saya menyangka lagu tersebut dikarang oleh Melly).

Agar tidak bias, saya sengaja mendengarkan satu album mereka. Hasilnya, kalau boleh memberi bintang satu sampai lima, saya akan memberi satu setengah. Secara komposisi, terlihat biasa. Walapun ada beberapa yang balada, dan ternyata juga sudah menjadi hits mereka di media-media. Tapi logikanya, apakah pantas kita melabel mereka sebagai pendatang dengan album terburuk dengan menyalahkan komposisi mereka yang mengimpresikan ke-menye-menye-an, sementara hampir semua band yang berkarya akhir-akhir ini juga menampilkan hal yang sama? Kalau begitu kita juga bisa menyalahkan influences mereka yag sebelum-sebelumnya, dong? 

            Jujur saja, saya juga agak kurang sreg dengan perkembangan musik Indonesia akhir-akhir ini. Karena tuntutan industri musik yang sangat mementingkan komersialitas dan mementingkan konformitas, justru membuat mereka itu menjadi (sengaja) stagnant dalam memproduksi ide-ide yang kreatif. Mereka juga masih terpaku dan berjalan di jalur yang aman. Apa takut ditinggal penggemar atau ditinggal label rekaman yang menfasilitasi mereka? Apa kita juga perlu mendidik penggemar yang notabene juga pelaku industri musik dengan mengajarkan bahwa suatu perubahan dan kreativitas adalah lebih baik? Absurd juga, bukan?

1_bigtre_1 Lalu tentang album OST. Bukan Bintang Biasa, tidak kalah dihujat juga. Banyak pengamat musik menilai bahwa ini adalah degenerasi seorang brilian Melly. Melly yang selama ini menghasikan album-album yang terbilang sukses namun bagi saya cita rasanya sama hanya packaging-nya saja yang berbeda. Coba Anda perhatikan, sejak album OST Ada Apa Dengan Cinta, dan dilanjutkan dengan OST Eiffel I’m Love hingga OST BBB ini, Melly suka sekali bereksperimen dengan orang-orang (baca: penyanyi) yang terbilang baru di industri musik Indonesia.

Memang tidak salah ketika kita bereksperimen dengan sesuatu yang baru, tapi ketika dihadapkan dengan album OST. BBB ini, tampaknya Melly menuai kritikan dan protes karena telah salah dengan mengajak artis-artis pendukung OST ini kepada orang-orang yang katanya ”tidak bisa nyanyi sama sekali”. Alhasill kualitas album (kecuali musik dari instrumen) terlihat sangat standar dan terkesan dipaksakan. Saya hanya bisa tersenyum, karena bagaimanapun juga Melly pasti memunyai pertimbangan lain tentang ini dan juga seperti anekdot yang sering kita dengar ”penonton sangat pandai sekali menilai”.

Satu lagi album terburuk tahun 2007, adalah album The Rock. Dalam majalah Rolling Stone Indonesia dan majalah Hai, tidak sedikit setiap tulisan yang berkaitan dengan Ahmad Dhani dan pastinya dengan The Rock-nya ini disinggung-singgung sebagai antiklimaks dari perjalanan dan kualitas musik seorang Dhani. Terlebih ketika disinggung single pertamanya yang berjudul ”Munajat Cinta” itu.

Ada yang berpendapat Dhani sekarang sudah tidak mampu lagi menciptakan karya-karya fenomenal seperti yang dilakukannya pada album-album Dewa ”Pandawa Lima” dan Ahmad Band atau seperti dia membantu Reza Artamevia dulu. Tidak hanya itu, dalam album The Rock tersebut hanya memuat tiga lagu baru saja. Yang lain, hanyalah repackaging dari masterpiece Dhani dulu. Hanya arransemennya saja yang berbeda. Bahkan yang lebih kontrasnya, band yang bernama The Rock ini terlihat seperti akan memainkan musik-musik rock. Tapi yang terjadi, terdapat dua lagu yang bernuansa swing jazz. Paradoks?

Untungnya reporter Hai segera menemui serta mewawancarai Dhani di tengah kesibukannya dan terangkum dalam tulisan artikel di majalah Hai. Apa advokasi dan argument seorang Dhani? Bagi dia, ketika membuat lagu Munajat Cinta tersebut, dia terinspirasi dari Matta Band (yang memopulerkan hits ”Ketahuan”) dimana dia berniat membuat lagu yang memunyai melodi yang easy to catch dan hal itu dilakukannya. Walau dicerca, lagu tersebut justru sering diputar di media-media hiburan.

Lalu ketika ditanyai tentang menyelipnya dua lagu bernuansa swing itu, Dhani memjawab bahwa dia sudah lama kebelet ingin membuat album swing (atau terinspirasi dari OST. Rumah Ketujuh-nya Indra Lesmana yang sangat kental dengan big band jazz dan swing jazz-nya?). Jadi dua lagu tersebut sengaja dipasang juga dengan intensi agar para indonesian music listeners, dapat familiar dengan musik swing. Dhani pun menjelaskan bahwa dia sedang tidak ingin membuat lagu banyak pada album ini dengan alasan sedang malas dan juga ingin kembali mengenalkan musik-musik yang pernah dia karang dulu kepada listeners baru musik Indonesia.

HpYa, itu terserah dia. Tidak bisa disalahkan juga. Menurut saya Dhani adalah seorang yang sangat cerdas di musik. Talenta dan kapabilitas dia dalam mengarang dan mengaransemen musik yang dia miliki adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa miliki. Para musisi juga berkarya dalam di industri musik mau tak mau harus bisa mengikuti arus pasar. Bisa juga dikatakan kesuksesan seorang artis musik ditentukan sejauh mana karya mereka diterima oleh pasar.

Kembali menyikapi arus perkembangan yang sangat kompetitif ini memaksa para musisi harus berlomba memberikan karya terbaik mereka. Ya, semua berkompetisi di bidangnya masing-masing. Ada yang di jalur major label dan ada yang tetap loyal dengan indie label mereka. Toh mereka juga punya pangsa pasar yang sudah terdiferensiasi.

Dalam tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan bahwa seseorang berhak menilai sesuatu dengan sudut pandang dia sendiri. Tapi ingat juga, bahwa ternyata hal yang kita pandang itu memunyai persepsi yang berbeda tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Walaupun memunyai sudut pandang yang berbeda, bukankah kita hendaknya juga tetap menghargai apa yang dihasilkan orang lain?. Terlepas kita suka atau tidak. Lagipula cara menghargai sesuatu kan tidak harus dengan memiliki dan memujinya, tapi sekadar sebuah senyuman dan beberapa kali tepukan tangan saya rasa itu sudah cukup. Karena Anda pun belum tentu bisa seperti mereka.

Epos Sebuah Opsi

November 27th, 2007 by fajarjazz

Di sore hari hape gw berbunyi karena ada sms yang masuk. Ternyata dari teman gw yang sekarang kuliah di HI di salah satu PTN sangat terkenal. Sms pun gw baca. Namun gw kaget, karena dia nanya gw : kalo lo taun 2006 kemaren jadi masuk psiko unpad (pilihan kedua spmb gw pada tahun 2005 dan 2006) apakah lo bakal ngulang spmb lagi untuk dapetin psiko ui (sekarang) ga? Sontak saja gw terkaget-kaget!

Dalam salah satu teori psikologi perkembangan manusia oleh Papalia, menyebutkan pada tahap adolescence (11 ampe 20 taon), menyebutkan bahwa pada usia itu, remaja dalam perkembangan kognitifnya sudah dapat memikirkan dan membuat pilihan karir dan pendidikan lanjutan nantinya. Begini, menurut gw spmb adalah salah satu perwujudan dari penggalan teori di atas. Artinya, ketika kita telah memutuskan sesuatu dalam memilih pilihan karir atau pendidikan lanjutan, seharusnya kita sudah mempertimbangkan sangat masak2. Karena itu bukanlah suatu “iseng-iseng berhadiah”. Banyak juga teman2 gw yang pada waktu akan memilih jurusan di form spmb, mereka hanya menyukai satu atau dua jurusan saja  dari tiga jurusan yang diisi. Lainnya? Yah, isi saja dulu. Ntar gimana2nya dipikirin lagi deh! (begitu ujarnya).

Buset, kalo ternyata mereka lulus pilihan ketiga yang notabene kurang atau bahkan tidak disukainya, mau gimana coba? Benar saja! Mereka (lumayan) banyak lulus di pilihan yang mereka kurang bahkan tidak sukai. Lalu? Smpb kedua ngulang lagi deh! Trus setaun kuliah di pertama, malah ogah-ogahan. Mubazirkan jadinya? Mubazir waktu, tenaga, mubazir pikiran, dan pastinya mubazir duit!

Gimana kalo bagi teman2 yang kebetulan mbaca tulisan gw ini, dan kebetulan juga akan ikut spmb, ato punya adek/sodara gitu yg akan spmb, bisa memersuasikan agar mereka memilih pilihan spmbnya dgn jurusan yang betul-betul disukai atau diminati. Karena hal ini bukanlah ajang uji coba atau media iseng2. Ini adalah awal elo belajar untuk memutuskan suatu hal yang dapat mengubah jalan hidup elo ke depannya. Sebuah langkah menuju gerbang fase dewasa muda, bukan?

paradoks gitaris ganda

September 29th, 2007 by fajarjazz

(HANYA UNTUK GITARIS, PEMAIN BAND, dan orang2 BEHIND THE SCENE di musik!)

Z_luv_dia
Mengapa gw menulis tulisan ini? yap, ini adalah hasil pengalaman dan diskusi ketika ngeband dulu sewaktu smp (sampai sekarang). Dulu sewaktu ngeband (smp) dengan komposisi personel vokalis, drumer, basis, dan dua orang gitar. Nah, kata2 "dua orang gitar" ini lah yang ingin gw bahas. Sebenarnya dari dulu tu gw ga setuju dengan konsep dua gitaris. Apalagi lagu2 yg gw maenkan dulu ampe sekarang tuh ga "wajib" dieksekusi oleh dua orang gitaris sekaligus.

Sekarang lo bayangin deh, ketika materi lagu2 lo itu overall ga "mengharuskan" memakai dua gitaris, tapi lo maksa untuk make juga, yang lo hadapi adalah pembagian jobdesc and pattern yg saling bertabrakan. Yg gw tau yah, hampir kebanyakn gitaris2 itu "sangat egois". Egois dalam arti kata selalu ingin mendominasi dalam sound (yang gahar), melodi, dan performance di venue. Sepintas terdengar kurang ajar (maaf bwat yg ngerasa gitaris, bahkan gw sendiri adalah seorang yg sangat CINTA gitar), tapi itu realfact bung!

Kebayangkan lo, kalo satu orang gitaris aja sudah egois seperti itu, apalagi di suatu band itu ada dua gitaris sekaligus? ketika gw smp gw pernah ngeband dengan konsep double gitaris. Yang terjadi adalah gw selalu mendominasi permainan dan pattern lagu yang dimainkan. Hal ini juga  mengakibatkan gitaris satu lagi terkesan sebagai "display" aja pada band tersebut. Gw mulai ga enakkan karena selalu cekcok dengan gitaris yg satunya lagi. huhh,,,. Akhirnya setelah itu dimulailah dengan menerapkan konsep band dengan satu orang gitaris saja (cuma gw sendiri). Lo tau  apa yg gw rasakan? sedap banget boZ! gw jadi bebas berkreasi tanpa harus mengambil jatah orang lain. memang waktu itu gw kebanyakan memainkan lagu2 yg justru didominasi satu gitaris saja.

Gw pernah menonton band pub, lalu terkaget2. Untuk pertama kalinya gw ngelihat mereka memakai konsep dua kibordis. Lalu bagaimana dengan fungsi gitarisnya? mereka juga "hadir" dan lebih berfungsi sebagai ritem pengiring kibor saja. Tidak itu saja, waktu itu gw juga memerhatikan band2 seperti The Groove, dan Kahitna saja memakai konsep dua kibordis.

Perlu ditekankan sekali lagi, esensi dalam sebuah band itu adalah keutuhan (entity) yang sangat padu dan terkemas dalam kemasan yg apik. Di dalamnya terkumpul orang2 yg saling bekerja sama dan pastinya saling menekan egosentris-nya masing2 demi sebuah dedikasi terhadap audiens. Band yang idealnya memakai seorang atau lebih vokalis, dimana dia adalah sesosok yg harus dijadikan frontman yg dapat merepresentasikan apa yg bakal diberikan kepada pendengarnya. Jadi taik kucing untuk band2 yg hanya berkutat dalam segi instrumental (terlalu concern dg instrumnenya, lalu mengabaikan performa vokalisnya). Memangnya listener pertama kali dengerin gitar yg meraung-raung, atau gebukan drum dengan perangkat yg gila2an seperti Mr. Portnoy punya, atau slaping bas ala Tetsuo Sakurai? Boong banget. Yang mereka dengar justru keelokan bunyi nada yang ditonjolkan oleh vokalisnya.

Jadi, menurut gw kalo sebuah band itu "tidak" harus menggunakan dua gitaris, ya sudah jangan dipaksakan. Yang ada hanya salah satu terkadang sering makan hati! Yaya, kecuali mereka dapat menjamin hal itu tidak dapat terjadi, atau memang konsep band yang membawakan lagu2 yg mengharuskan mereka memakai dua gitaris.

FootNote: Sebuah Devian (baca:bias)
penulis adalah pencinta gitar sangat. Tapi, basic musiknya justru bukan dari gitar ,melainkan dari electone (sejenis keyboard tapi ada pedal bas di kakinya) yang ditekuni sejak kelas dua sd dan gitar baru ditekuni sejak kelas dua smp. Penulis juga penggemar jazz. Selain itu, music basic influence adalah band2 seperti Queen, Toto, Casiopea, Dewa, Indra Lesmana, Yovie Widyanto, Dwiki Dharmawan, dan The Groove yang notabene adalah musisi2 yg memakai konsep kibor dalam komposisi musiknya. Jadi mohon maaf kalo ada bias dalam tulisan ini ya. Tapi itulah manusia, nobody perfect bRo! 

Menuju 2o

May 21st, 2007 by fajarjazz

Fff_jg

“Kamu tidak akan pernah merasa menjadi SIAP. Karena
keberhasilan yang akan kita tuju itu belum pernah kita alami (Mario Teguh-pakar
motivasi financial)”.

Menuju 20 adalah suatu
sebutan untuk proyek pribadi gw. Yap, betul sekali, ini adalah proyek (sengaja
pakai term proyek, biar lebih keren dan serius,,hehehe) yang sengaja gw rancang
untuk menyambut umur gw yang 24 mei nanti akan genap dua puluh tahun. Mungkin
ada yang heran mengapa gw terlalu menjadikan ini sebagai euphoria atau sekedar show off belaka.
Terserah lo-lo pada mau ngomong apa. Tapi hal ini  tetap harus dijadikan
suatu media positif untuk evaluasi, retrospeksi, dan juga kontemplasi (gw masih
saja suka kata dan kegiatan ini). Alasan lainnya adalah menurut gw, umur 20
adalah awal seorang manusia menjadi dewasa muda dan dimana dia akan memasuki
kompleks dan peliknya hidup yang familiar dinamakan “kepala dua”.

Lo semua pasti tahu (atau
tidak mau tahu?,,becanda deng!), umur dua puluh adalah pintu gerbang untuk
peristiwa-peristiwa monumental yang akan tertores dalam sejarah hidup anak
manusia. Seperti lulus kuliah, memasuki dunia kerja yang terkenal kompetitif,
pernikahan dan lain-lain. Bukan berarti usia lain tidak. Gw pernah mendengar AA
Gym dalam satu ceramahnya, dia mengatakan bahwa usia muda (disini gw
mengasumsikannya dengan umur dua puluh tahunan) adalah usia dimana seseorang
sebaiknya melakukan segala hal2 positif dan tidak menyia-nyiakan kekuatan
“muda”nya dengan kegiatan-kegiatan yang “sampah”(baca: tidak berguna). Orang
muda yang bijak menggunakan masa mudanya bisa dijadikan sebagai refleksi untuk
fase-fase umur lainnya.

Sejak pertama kali ide ini
muncul, gw sudah bertekad agar saat itu (sejak ide itu muncul), gw ingin
menjadi lebih baik dari hari kemaren, kemarennya lagi, dan hari-hari
sebelumnya. Gw selalu ingin menjadi lebih sempurna dari hari-hari sebelumnya.
Hal yang menjadi variable dan tolok ukurnya adalah :

  1. pola pikir
  2. kemampuan menghadapi serta problem solving
  3. bersikap terhadap orang lain yang notabene
              berbeda-beda tipikal kepribadian dengan kita
  4. regulasi emosi dan mood barangkali??
  5. apa ya??

“Orang baik yang
tidak diperlakukan secara baik, maka selanjutnya pasti akan dicari dan
diperlakukan lebih baik dengan orang yang lebih menghargai kebaikannya (Mario
Teguh)”.

 

Hari demi hari gw selalu
mengevaluasi setiap kegiatan yg gw kerjakan, mengevaluasi sikap gw ke hampir
setiap orang yg gw berinteraksi dengan mereka, terkadang membosankan, terkadang
membuat gw selalu menyalahkan diri gw kepada orang-orang itu (baca: semua orang
yg berinteraksi dengan gw dan berjanji dalam hati setiap akan tidur untuk tidak
mengulangi keesokan harinya. Namun, ketika gw sudah berhati2 untuk tidak
mengulangi ketololan hari kemaren, gw berhasil di hari berikutnya. Namun, masih
saja gw melakukan ketololan baru di hari itu. Hal ini selalu terulang setiap
harinya.

Dulu gw berpikir, kita
tidak akan mungkin memaksa orang lain untuk involve atau mengikuti rules yg
kita buat. Betapa egosentrisnya gw?? Walau ada beberapa yg bisa menerima apa
idealisme gw. Namun mereka juga punya hak dan kebebasan untuk menentang
iealisme gw. Apa eksesnya? Kebanyakan gw yg involve kepada rules yg mereka
buat. Sampai kapan gw harus seperti itu?

“Menolong bukanlah
sebuah pekerjaan dimana terdapat imbalan jika kita memberikan pertolongan. Saya
yakin, jika menolong orang lain, maka Tuhan PASTI akan menolong saya juga
dengan tangan yang berbeda. Dan itu selalu berjalan & berputar
membentuk suatu siklus (Mario Teguh)”.

Menuju 2o dengan status
joMBLo? Hahaha,,awalnya gw berpikir itu memalukan. Ya, cinta dan sayang tidak
bisa dipaksakan. Ketika kita harus rela bahwa orang yang kita sayangi itu lebih
memilih laki-laki lain, ketika kita sudah siap untuk mengeksekusi dengan
katakan cinta lalu berubah seratus delapan puluh derajat untuk tidak jadi dan
berpaling kepada perempuan lain, ketika kita begitu disayangi oleh seseorang
lalu kita apatis dan tidak berbalik membalas sayang itu dengan alasan tidak
sayang atau sudah memilih perempuan lain, ketika rasa suka terhalang oleh salib
di leher, ketika rasa kecewa terhadap seseorang dijadikan alasan untuk
membalaskannya kepada perempuan yang tidak bersalah, ketika kita mengucapkan kata
“ketika” untuk melanjutkan kalimat pada paragraf ini,,,. Dua perasaan itu
haruslah menyatu dan tidak bersifat sepihak. Harus saling menyayangi, harus
saling menrima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan, dan menjaga
kepercayaan satu lainnya.

Lalu gw berpikir lagi, toh
gw laki-laki. Gw (secara tidak tertulis) tidak dilarang untuk menikah pada umur
kapan saja. Ya, hal ini kontras dengan perempuan. Bukan gw bermaksud
menonjolkan hegemoni ini. Tapi, memang itu kenyataannya. Hampir setiap perempuan
yg gw temui selalu menceritakan pola ekspektansinya untuk masalah menikah.
Kuliah 4 tahun, beberapa yg langsung melanjutkan ke S2 selama 2 tahun, lalu
kerja dua tahun juga. Dan merit,, benar-benar pola yg membosankan.

Suatu saat nanti, gw pasti
mendapatkan apa yg gw mau (mencoba meyugesti diri sendiri,,hahaha)

“Setiap manusia di
dunia ini butuh perhatian (Bayu Sugara-sahabat gw)”

Menuju 2o, suatu dedikasi
untuk mama dan papa. Dua orang yg sangat gw sayangi. Sumpah! Gw ga bisa
bayangkan jika salah satu dari mereka pergi ke dunia yang lain. Ya, gw juga
sepenuhnya sadar kalau mereka tidak abadi di dunia ini. Gw begitu bersyukur
sampai saat ini masih bisa bertemu dan mendengar suara mereka walau lewat
handphone. Tau ga, setelah tanggal 1 November 2005 itu (maaf ya Syed,,, (bukan
nama sebenarnya), gw ga maksud nyinggung hal itu lagi), gw merasa down dan
beberapa bulan untuk merefresh pikiran gw lagi. Di saat itu gw selalu mencari
apa hikmah dibalik semua itu. Karena gw sangat yakin, hikmah itu tidak datang
dengan sendirinya namun harus ada usaha mencarinya. Dan gw berhasil
menemukannya. Gw merasa sadar, selam ini, rasa sayang gw terpusat hanya untuk
seorang perempuan. Lalu perempuan itu pergi. Dan gw pun apatis terhadap mama dan
papa. Padahal rasa sayang mereka ke gw tidak pernah hilang dan terbatas. Di
titik itu, gw merasa mulai saat ini gw harus lebih sayang lagi kepada mereka.
Tidak ada alasan tidak. Gw merasa itu adalah epifani yg membuat gw sadar bahwa
kehadiran mama dan papa tidak akan selamanya ada di hidup gw. Pasti ada saat
dimana mereka akan meninggalkan gw untuk mengarungi hidup yang betul-betul liar
ini.

Sejak itu, rasa sayang gw
kepada mereka bertambah besar. Dari cara gw ngomong lebih sopan dari biasanya.
Gw sebisa mungkin tidak menolak apa yang diminta tolong atau yang
diinginkannya. Alasannya, gw takut gw tidak bisa membalas semua kebaikan dan
utang budi mereka ketika mereka “pergi” nanti. Gw cuma ingin membahagiakan
mereka selama mereka masih hidup dan selama gw sanggup.

“Sebuah keramik yang
indah pastilah melalui tahap-tahap yang kompleks sekali, mulai dari tanah liat
yang dipukul-pukul, diremas-remas hingga dibentuk (shaping), setelah itu
dipanaskan di dalam oven yang sangat panas. Terakhir, diberi cat warna (Mario
Teguh)”.

Hampir setiap hari gw
mencoba untuk lebih sempurna dari hari-hari yang lain. Gw tahu gw adalah
seseorang manusia yang mempunyai keterbatasan. Tetapi mempunyai keinginan yang
melebihi kemampuan gw, tidak dilarang juga kan? Pernah di satu titik, gw merasa
tidak memliki apa-apa dibanding orang lain di sekitar gw. Ada impresi bahwa
mereka sangat mengagumkan, sangat bersinar, seolah-olah Tuhan hanya melebihkan
nikmat dan karunia-Nya hanya kepada mereka saja. Superfisial (baca: picik)
banget gw?

Sebelum “menuju 2o”, gw
disupport ama sicnificant other
(orang yang sangat berpengaruh dalam hidup gw) gw. Akhirnya gw sadar, gw SANGAT
TIDAK PERLU untuk merasa inferior. Gw diberi keyakinan bahwa banyak sekali
kelebihan yang gw miliki tidak ada bersama orang lain. Sekarang gw cuma
ditugasi untuk menyadari hal itu, dan segera memaksimalkan apa-apa yang gw
punya. Ternyata paradigma gw pun berubah. Gw lebih pede dan tidak perlu merasa
jiper atau inferior lagi.

Gw merasa sangat bahagia
menyambut “perhelatan” ini. Walaupun hanya dalam konstelasi dan asketik pikiran
gw. Gw puas dengan apa-apa yang gw miliki saat ini. Gw merasa sempurna. Sangat
sempurna bahkan (bukan takabur juga). Ini hanya refleksi euphoria gw semata.

“Ketika gw bersyukur
dengan semua yang gw miliki, gw merasa menjadi orang terkaya di bumi ini (Fajar
Erikha 2006)”

Segalanya pasti ada proses.
Terkadang kita pun harus mengkritisi sebuah kata “instant”. Mengapa? Sebuah
pembuatan mi instant pun membutuhkan proses juga. Jadi instant pun juga proses.
Hanya saja durasi waktunya lebih singkat. Hal ini yang gw ambil sebagai
landasan dalam perubahan gw menuju lebih baik pun tidak bisa langsung begitu
saja. Setiap hari gw pasti menemui hal-hal baru, baik berupa hal-hal yang telah
terjadi di masa lampau, atau hal-hal yang sangat unpredictable. Gw belajar dari
kesalahan-kesalahan yang gw alami. Semakin banyak gw belajar, maka (idealnya)
gw akan semakin cekatan dan bijak dalam problem solving dan decision making
(harapan gw).

Seamat datang umur 2o, gw
akan berusaha menjadi diri gw sendiri dan menjadi terbaik bagi siapa saja dan
apa saja. Gw akan menjadi mikrokosmos yang “patuh” terhadap equilibrium
makrokosmos. Karena alam punya cara sendiri untuk itu (baca : hukum alam dan
balansnya Yin dan Yang)

“Baik saja belum
cukup bila lebih baik masih memungkinkan (Mario Teguh)”.

Terima kasih bwat Penguasa
Abadi, mama dan papa. Keluarga gw. Para significant other gw (sahabat, mantan2
gw, teman-teman band dan filateli gw, senior2, guru2 dll) juga orang-orang yg
pernah sangat berjasa bagi kehidupan gw namun ga sempat gw ucapin,

*(Mario Teguh adalah
seorang trainer financial yang acaranya di radio Ramako FM Jakarta yang bekerja
sama dengan Classy FM Padang. Acara beliau  (hampir) selalu gw dengar
ketika gw vakum di awal 2006 kemaren. Thx bwat quotationnya. Beliau sangat
bijak dan pintar sekali)

 

antara MAAF dan TERIMA KASIH

March 24th, 2007 by fajarjazz

Maaf dan terima kasih adalah dua kata yang sederhana tetapi memiliki kemampuan yang sangat ampuh dalam mempengaruhi seseorang  atau kelompok. Seringkali orang-orang melupakan dua kata ini. Mengapa mereka melupakannya? Jawabannya adalah karena mereka menganggap remeh dua kata tersebut.

Misalnya saja kata terima kasih, kita bisa bayangkan seseorang yang telah membantu kita walapun tidak terlalu banyak, lalu dihadiahkan dengan terima kasih, pasti si orang tersebut merasa jasa pertolongan dia yang sedikit itu sangat berjasa bagi kita sendiri.

Mengucapkan terima kasih juga dirasa basi ketika akan diberi kepada orang-orang yang sangat dekat dengan hari-hari kita. Contohnya saja untuk sahabat dan orang tua kita. Kita seakan gengsi atau merasa tidak perlu memberikan ucapan tersebut ketika mereka memberikan pertolongan atau seseuatu kepada kita. Ya, mereka (mungkin) juga mengerti dengan sikap kita itu. Tapi akankah hal ini berlangsung terus-menerus?

Ada sebuah quotation : ucapan terima kasih yang sederhana namun memiliki pengaruh yang sangat besar bagi orang yang menerimanya.

Terserah Anda percaya atau tidak. Namum ketika kita lebih peka melihat efeknya, maka kita akan segera menyadarinya. Begitu juga halnya dengan ucapan maaf. Ucapan yang berarti suatu pengakuan bersalah seseorang kepada orang lain atas apa yang diperbuatnya ini juga seolah dirasa tidak dipentingkan. Mungkin dialasankan dengan hal-hal di atas kali?

Namun, disadari atau tidak seseuatu yang berlebihan itu ternyata selalu menghasilkan ekses yang kurang baik. Begitu juga dengan hal ini. Ketika kita terlalu sering mengucapkan terima kasih dan maaf secara terus-menerus, apakah kata-kata di atas akan kehilangan maknanya?

Lelaki pemikir

January 7th, 2007 by fajarjazz

Aku lelaki yang berkelakar tentang cinta

Entah cinta yang datang atau cinta yang pergi

Yang jelas aku berpikir tentang itu

Menunggu siang untuk malam

Begitu penat dengan siang

Dan berharap malam sebagai pelampiasan

Entahlah…

Aku lelaki yang selalu berpikir tentang cinta

Dan hal yang tak lazim dipikirkan orang lain

Malam belum tentu baik untukku

Tapi pada malamlah aku bersandar dalam dingin

Dingin yang belum tentu kudapatkan pada siang

Lelaki sepertiku memang seperti itu

Berpikir tanpa sebab

Sampai akhirnya aku bertanya…apakah aku lelaki dengan cinta?

-Puisi ini adalah buatan Arief Risa, teman (nama panggilannya “bibing”,lebih tepatnya disebut sohib akrab)  gw di padang.Puisi ini dibuat di rumah gw  pada tanggal 9 Februari 2006 pukul 12.45. Puisi ini juga ini jugalah yang membuat Arief menjuarai lomba apresiasi puisi yang diadakan Radio Classy FM (103,00) pada bukan Maret lalu. Menurut gw ni puisi keren banget! Keren? Karena banyak hal yang tersirat dan tersurat di kata-katanya yang sama dengan gw! “menunggu siang untuk malam, begitu penat dengan siang, dan berharap malam sebagai pelampiasan”. Ya, ketika malam tiba, semua orang sudah berada di alam mimpinya, gw malah duduk di depan meja belajar, mendengar musik dan improvisasi jazz dari Radio JNC (Jazz and Classic), berkontempelasi (gw suka kata2 ini, karena dengan kontemplasi, kita bisa kilas balik apa2 yang sudah kita lakukan siang tadinya) mencoba mengartikan setiap sikap siapa saja orang yang pernah berinteraksi dengan gw siangnya, apakah ada kata2 gw yang salah, benar, sehingga menimbulkan respon yang berbeda2 dari setiap orangnya. Berpikir dan berharap hari esoknya gw dapat lebih sempurna (walaupun tidak akan bisa) lagi dari hari sebelumnya. Terakhir,  pada penutup puisi, gw juga memuji kata2 : “sampai akhirnya aku bertanya, apakah aku lelaki tanpa cinta?”. Menurut sudut pandang gw, kata2 itu bisa berarti sebuah pernyataan pesimis si penulis tentang bagaimana keputusasaan dirinya tentang kehadiran (atau ketidakhadiran) “cinta” itu sendiri di kehidupannya. Lo punya persepsi laen?Image036

Kecantikan Perempuan

January 1st, 2007 by fajarjazz

Ada
juga yang mempersepsikan kecantikan itu adalah personality dan aura inner
seorang perempuan. Jadi, kita akan mempunyai banyak macam jawaban akan hal
ini. 180pxmona_lisa_2
Berbicara tentang
kecantikan siapa pun pasti mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Perihal
mengenai kecantikan perempuan ini seolah tidak pernah habis untuk dikupas. Ad
orang yang ketika ditanya persepsinya tentang kecantikan seorang perempuan
(terutama laki-laki), maka mereka mejawab perempuan cantik itu adalah mempunyai
wajah seperti Cathrine Wilson atau Mariana Renata. Mempunyai bodi yang ideal bahkan
aduhai”.

 Kecantikan
itu sendiri terdiri dari dua macam yaitu, kecantikan dalam (inner beauty)
dan kecantikan luar (outer beauty). Outer beauty atau kecantikan
luar memang dapat direfleksikan dengan bentuk wajah yang ayu, cantik, dan enak
dilihat. Bisa juga mempunyai bentuk tubuh yang bagus dalam arti kata tinggi,
semampai, atau ada juga yang mendefenisikan dengan analogi “seperti gitar
spanyo
l”. Orang yang memandang kecantikan seseorang perempuan bisa juga
dikatakan sebagai faktor ketertarikan seksual. Kebanyakan laki-laki pada
awalnya memang memandang dari segi ini. Ya, walaupun banyak juga yang lebih prefer
dengam inner oriented dalam memilih pasangannya. Baru setelah itu mereka
melihat inner perempuan tersebut. Jika saja inner-nya juga
tidak kalah dengan outer-nya, maka si laki-laki akan semakin kuat untuk
memilih perempuan tersebut untuk calon pasangannya. Itu adalah anekdot
(terkadang juga realita) dalam dunia lelaki.

Inner beauty.Ada
suatu pernikahan yang didasari dengan ketertarikan fisik semata, bukan
ketertarikan personality, biasanya akan rapuh dan tidak jarang dari
mereka yang berujung dengan perceraian. Ironis, bukan? Memang dalam hal ini
kita dituntut lebih wisdom dan cerdas. Jangan hanya ketertarikan
terhadap physicaly saja lalu kita sudah memutuskan bahwa itu adalah
pilihan untuk pasangan lita. Hal ini juga bisa dipakai dalam memilih pria oleh
wanita. dalam hal ini lebih ditekankan kepada bagaimana personality
(kepribadian) seorang perempuan, bagaimana sikapnya terhadap siapa saja,
bagaimana keanggunan atau juga sisi feminin yang diimpresikan oleh perempuan
tersebut. Seorang perempuan yang mempunyai inner beauty tetapi tidak
(atau lebih tepatnya lagi kurang) memiliki outer beauty, biasanya akan
lebih baik daripada seorang perempuan yang mempunyai outer beauty saja
tanpa personality yang baik. Karena pada dasarnya, seseorang
berinteraksi dengan orang lain (perempuan) bukan hanya melihat paras cantiknya
saja. Saya saja bakal lebih memilih berteman dengan paras wajah yang
biasa-biasa saja ketimbang berteman dengan perempuan yang berparas cantik
tetapi memiliki kepribadian yang jelek. Kita berintraksi dan bergaul juga butuh
rasa confort atau kenyamanan. Di
dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kita dihadapkan dengan
masalah-masalah seperti ini.

Inner juga bisa dikaitkan dengan kepintaran seseorang
perempuan. Walaupun seorang perempuan memiliki kecantikan yang biasa-biasa
saja, tetapi dia sangat pintar dari segi kecerdasan, maka itu juga merupakan
suatu poin tersendiri bagi si perempuan. Lagian tidak semua laki-laki yang
mengharuskan dalam kriteria pasangannya harus cantik luar.
Penulis pernah punya
pengalaman dari seorang teman dekat (perempuan), dimana dia menceritakan tentang
nasibnya yang (menurutnya) malang
dan patut dikasihani. Hal
ini dikarenakan, dirinya tidak pernah mempunyai pasangan yaitu pacar. Sementara
teman-temannya yang lain, sudah banyak yang mempunyai pacar. Dia juga
berpendapat bahwa dia tidak seberuntung teman-temannya yang lain yang memiliki
tubuh yang cantik dan menarik. Dia sangat pesimis dan beranggapan bahwa cara
satu-satunya agar dia mendapat pacar atau pasangan yaitu harus dia yang lebih
“agresif”. Karena kalau tidak, jangan harap dirinya mendapat pasangan. Setelah
mendengar pernyataan tersebut, penulis hanya bisa meyakinkan bahwa itu tidak
selamanya benar dan tetap optimis bahwasanya tidak semua laki-laki memandang
perempuan dari kacamata “fisik”nya saja.

Guitar_1

Dari
hal diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa orang mempunyai persepsi yang
varitif mengenai kecantikan. Hal ini bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pola
pikir yang ditanamkan oleh keluarganya, atau gejala yang berkembang saat itu.
Jadi, bagi Anda yang perempuan segeralah merubah pola pikir negatif Anda
mengenai kecantikan. Jangan hanya karena kecantikan Anda melakukan segala cara
sampai yang haram sekalipun agar mendapat pengakuan cantik dari kaum Adam.
Ingat, Anda harus jadi diri sendiri dan optimalkan apa yang sudah ada di diri Anda.
Karena hal itu salah satu manifestasi rasa syukur Anda kepada diri Anda dan
Dia.

Jazz Indonesia Setelah Hibernasi

January 1st, 2007 by fajarjazz

Jazz akhir-akhir ini menggeliat
lagi. Hal ini dibuktikan dengan mulai ramainya lagi artis-artis jazz di
Indonesia dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Semakin banyaknya artis-artis
jazz saat ini merupakan refleksi peningkatan apresiasi dan animo terhadap musik
yang berasal dari New Orleansini. Tidak hanya itu saja, ramainya new comer dari artis-artis jazz mau
tidak mau juga meramaikan panggung-panggung jazz seperti Java Jazz Festival
ataupun panggung-panggung seperti JakJazz yang rajin diadakan.

Bangunnya jazz dari tidur
panjangnya selama ini cukup mengagetkan para artis jazz kawakan seperti Indra
Lesmana ataupun Ireng Maulana. Indra sendiri menyatakan (dikutip dari majalah
Rolling Stone) bahwa dia sangat bangga sekaligus bahagia karena akhir-akhir ini
karya-karya mereka mulai diterima oleh para new jazz lover. Tak ayal
lagi, hal ini memicu frekuensi panggung para artis jazz kita sehingga menjadi
sibuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (bagi para artis jazz lama). Indra
juga memuji para artis jazz saat in sudah tidak ragu dan berani dalam
mengakumulasikan serta mengakulturasikan komposisi jazz dengan musik-musik yang
lebih modern dan dinamis.Penulis sebagai jazz lover
juga merasakan hal yang sama. Saat sekarang jazz sudah bukan komponen musik
yang susah dicerna.

Paramusisi jazz sekarang
baik yang senior ataupun yang junior sudah sangat ahli dalam menarik atensi para
new jazz lover dengan cara-cara yang cukup kreatif dan inovatif. Salah
satunya adalah yang dilakukan oleh Sova. Sova adalah salah satu duo yang berani
mencampurkan musik dance-tekno-komputer dengan sentuhan yang sangat modern dan
sangat urban. Dengan cover album yang minimalis yan notabene merupakan ciri
khas jazz, album-album Sova menjadi salah satu album dan artis yang cukup
diperhitungkan. Penulis pun awalnya tidak sengaja membeli CD-nya. Awalnya
tertarik dengan cover album yang sangt minimalis. Lalu meminta penjual CD
tersebut untuk diperdengarkan dan akhirnya penulis langsung jatuh hati pada
pandangan pertama dengan artis ini. Artis lainnya yang cukup sukses
adalah Mocca. Penulis terkadang suka berdebat dengan jazz lover lainnya
apabila men-judge grup ini dengan aliran jazz. Adajuga salah satu artikel di majalah yang
mengatakan grup ini adalah grup pop dengan sentuhan Swedish (musik pop khas
Swedia). Sebenarnya Mocca adalah grup yang memiliki aliran lit jazz atau
bisa juga disebut dengan soft jazz.

Para penggemar Mocca pun banyak yang remaja. Mereka adalah grup yang sangat cerdas
dengan hasil karya yang mampu membalut jazz dalam touch yang manis dan
minimalis. Aplikasi konfigurasi kord-kord yang menggunakan major 7. ataupun
minor 7. dan juga minor 9 semakin memperkuat keberadaannya sebagai band jazz.

Memang saat sekarang sudah jarang
ditemukan komposisi jazz yang sangat pure dan natural. Tapi, dengan
akulturasi jazz dengan musik-musik lain menunjukkan bahwa jazz semakin eksis di
konstelasi musik di Indonesia. Jazz adalah musik yang sangat fleksibel dan
tidak susah untuk dielaborasikan. Ketika jazz digabungkan dengan klasik (suatu
yang sebelumnya sangat diskeptiskan banyak pihak) ternyata malah menjadi suatu packaging
karya yang ciamik.

Gaung-gaung jazz semakin terasa
setelah Peter F. Gontha, seorang pengusaha kaya yang juga jazz lover,
menjadikan jazz semakin eksis di negeri ini dengan mengadakan acara Java Jazz
yang mendapatkan apresiasi dan animo yang sangat bagus dari jazz lover di
Indonesia. Acara tersebut sangat spektakuler karena diadakan sangat eksklusif
dan dengan harga tiket yang cukup mahal untuk ukuran kantong remaja, tapi
dihadiri banyak sekali kawula muda. Mulai dari yang benar-benar jazz lover
sampai ada yang ikut-ikutan karena penasaran terhadap konsep acaranya.
Sebenarnya acara-acara jazz berkonsep festival seperti ini tidak hanya
dilakukan oleh Java Jazz saja.

Hal ini juga dilakukan oleh Arits
kawakan seperti Ireng Maulana dalam proyek unggulannya sejak era dekade 90-an,
yaitu JakJazz atau Jakarta International Jazz Festival. Festival yang belum
lama ini diselenggarakan yaitu tepatnya pada akhir November lalu cukup sukses
meraih perhatian jazz lover di Indonesia pada umumnya, jazz lover Jakarta
khususnya. Padahal sebelum JakJazz, para jazz lover juga “diguncang” oleh acara
Jazz Goes To Campus yang merupakan pertunjukkan jazz yang secara kontinuitas
diselenggarakan pihak Universitas Indonesia, yaitu oleh Senat
Mahasiswa Fakultas Ekonomi-nya sejak tahun 1978.

Sebelumnya, para musisi jazz Indonesia cukup
sering juga mengadakan konser jazz bertemakan “kemanusiaan”. Contohnya adalah
Konser Jazz Untuk Jogja (saat setelah gempa Jogja April lalu) ataupun saat
satelah tsunami Aceh awal 2005 lalu. Itu membuktikan bahwa jazz juga sangat
peduli dengan keadaan Indonesia
yang akhir-akhir ini sering tertimpa bencana alam.

Di satu sisi, penulis juga
terkadang suka kesal dengan jazz lover “gadungan”. mengapa disebut
gadungan? Hal ini dikarenakan sewaktu ada acara-acara jazz terkadang mereka
cenderung berisik ketika mulai di tengah-tengah pertunjukkan. Hal ini
dimungkinkan karena mereka sebenarnya hanya menonton karena ikut-ikutan dan
biar dianggap keren. Padahal terkadang hal tersebut menjadi suatu kejengkelan.
Tapi penulis sangat menghargai keberadaan mereka dengan ekspektasi suatu saat
nanti mereka bisa menjadi jazz lover yang sebenarnya. Hidup musik jazz
Indonesia.
Hidup musisi Indonesia.

 

 

 

 

Wanita Dijajah Pria Sejak Dulu (Sampai Sekarang)

January 1st, 2007 by fajarjazz

 

Anda yang perempuan, saya rasa pasti setuju dengan statement
saya di atas. Wanita dijajah pria yang saya angkat dalam karangan kali ini
adalah mengenai kekerasan terhadap perempuan (sebenarnya saya lebih suka
memakai term perempuan, karena wanita dalam term sansekerta
berarti “pemuas nafsu”) di dalam rumah tangga. Di Indonesia sendiri, angka
kasus kekerasan terhadap perempuan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
dan dominan dari hal itu terjadi di dalam rumah tangga. Bahkan sesuai dengan
data tahun lalu dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) “Mitra Perempuan”
, menyebutkan 77,36% pelakunya adalah suami korban. Mengejutkan memang.

Saya sendiri terkaget-kaget,
ketika membaca artikel di salah satu majalah wanita bulanan ini.

Ada

cerita tentang
tingkah laku suaminya yang sangat mengejutkan si istri. Yaitu ketika si istri
berusaha membangunkan suaminya yang sudah hampir dua hari tidak masuk kerja
dengan alasan sedang ada masalah dengan teman kantornya, ketika bangun si suami
langsung memukul istrinya dengan didahului dengan penyiraman segelas air putih
ke muka si istri. Suaminya tersebut memukul bertubi-tubi sampai si istri tidak
kuasa menahan dan terjatuh. Bahkan ketika si istri sudah terjatuh dan tidak
bisa apa-apa lagi pun, suaminya tetap saja memukulnya hingga ibu mertua suami
tersebut mendatangi kamar mereka karena mendengar suara gaduh dan berisik. Baru
suami itu berhenti memukul si istri dan segera kabur ke kamar mandi dan
menguncinya.

 Dari kasus di atas, perempuan yang notabene tidak
(selamanya) kuat selalu menjadi objek kekesalan suami. Suami yang tahu akan hal
itu , selalu menggunakan cara kekerasan terhadap istrinya dengan alasan
penggunaan kekerasan dapat menunjukkan bahwa si suami sangat berkuasa di
hadapannya. Tak ada yang boleh berkuasa terhadap dirinya selain dia. Ketika
ditanya kepada istri korban di atas yang bernama Titi, semula (ketika
berpacaran selama dua tahun) dia sangat tidak menyangka kalau suaminya ini
bakal sangat sadis seperti itu. Memang sebelumnya dia sudah tahu kalau suaminya
itu orangnya cepat emosi dan temperamental. Akhirnya Titi bercerai dengan
suaminya itu.

Istri dalam hal ini ternyata
mendapatkan dua macam kekerasan. Kekerasan fisik dan yang lebih parahnya lagi
mendapat kekerasan mental atau jiwa. Tubuh yang memar atau pun berdarah
logikanya bisa saja disembuhkan dengan pengobatan eksternal. Tetapi kalau yang
rusak itu adalah jiwa (psikologisnya), itu butuh waktu yang sangat lama, bahkan
bertahun-tahun untuk betul-betul sembuh dari segala bentuk trauma dan shock
berkepanjangan. Implikasi terparahnya bisa menyebabkan si istri menjadi gila.
Tapi ini terjadi jika kasus yang dihadapi sudah sangat berat dan kronis.
Sehingga berkemungkinan istri menderita gangguan mental permanen.

Kalau sudah begini yang paling
direpotkan adalah pihak keluarga korban. Betapa tidak, Siapa lagi yang bekal
peduli dengannya? Orang tua korban dapat menjadi suatu figure yang
sangat membantu dalam pertolongan pertama. Orang tualah yang akan melindungi
anak perempuannya itu dari “serangan balik” si suaminya itu. Orang tuanyalah
yang paling tahu bagaimana psikologi dan kepribadian anaknya itu . Dengan
memahami hal tersebut, setidaknya anak dapat menjadikan orang tua menjadi
tempat sandaran sebelum ditangani oleh pihak-pihak yang berkompeten di bidang
perkawainan lainnya. Orang-orang ataupun lembaga-lembaga yang berkompeten itu
bisa dalam bentuk konsultan perkawinan, psikolog, ataupun Kantor Urusan
Perkawinan. Merekalah yang sudah bisa dikatakan expert dalam bidang
perkawinan. Dengan pengalaman dan jam terbangnya yang tinggi itu, diharapkan
dapat memberikan solusi dan advice terhadap para boraban kekerasan suami
tersebut, apakah perkawinan tersebut dilanjutkan (jika masih memungkinkan dan
dalam hal ini, diminta komitmen dan keseriusan suami unutk berubah) ataukah
bercerai. Mereka diberikan opsi dan resiko terhadap masing-masing opsi juga
waktu untuk memikirkan penyelesaian masalah mereka. Karena bagaimanapun,
keputusan tetap di tangan mereka dan para “wedding expert” itu hanya
sebagai mediator dan pemberi saran saja.

Menurut saya pribadi, jika
pasangan Anda mempunyai gejala-gejala temperamen seperti di atas dan bahkan
mempunyai cirri-ciri seperti psikopat, sebaiknya Anda berpikir terlebih dahulu
untuk meneruskan hubungan atau tidak. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
penyesalan di kemudian hari. Apalagi ketika Anda sudah mempunyai anak. Karena
jika Anda bercerai dan Anda sudah mempunyai anak, maka si anak akan menjadi
korban lagi dengan alasan si anak akan kekurangan kasih sayang dari figure
ayahnya dan si Ibu pasti sedikit banyaknya juga akan sangat melelahkan karena
menjadi single parent.

 Jadi, ketika seorang perempuan
dihadapkan terhadap masalah serupa diharapkan agar segera mengambil tindakan preventif
dan proteksi diri agar tidak mendapatkan resiko yang lebih gawat lagi. Karena
kalau si korban hanya diam dan bungkam saja, maka tidak akan ada pihak yang
akan tahu dan pastinya penderitaan korban akan semakin berlarut-larut.